UNTUK tumbuh maksimal baik fisik dan otaknya, anak membutuhkan nutrisi yang seimbang. Setiap tahapan usia membutuhkan asupan nutrisi yang berbeda pula.

Banyak faktor yang memengaruhi tumbuh kembang seorang anak. Salah satunya adalah asupan nutrisi yang cukup. Kecukupan nutrisi harus mulai diperhatikan bahkan sejak janin masih dalam kandungan.

Dikatakan oleh ahli nutrisi dari Medika Plaza International Clinic, Semanggi Spesialist Clinic dr.Samuel Oetoro, bahwa orangtua bisa mengontrol nutrisi sehingga anak mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan sesuai tahapan usia tumbuh kembangnya.

"Sayangnya banyak orangtua tidak memahami masalah ini, sehingga cenderung para orangtua menyamaratakan makanan ke semua usia anak. Padahal, tiap anak, beda usia beda nutrisinya," ungkap Samuel saat menghadiri acara One Size Cant Fit.
Kebutuhan nutrisi untuk anak di masa pertumbuhan, pra remaja, dan remaja berbeda.
Karena selain secara kejiwaan dan hormonal juga mengalami perbedaan, masalah perbedaan jenis kelamin, remaja putri dan remaja pria, membutuhkan nutrisi dan energi berbeda, juga disesuaikan dengan aktivitasnya.

Biasanya, orangtua hanya memerhatikan asupan nutrisi hingga anak berusia 5 tahun. Setelah usia tersebut para orangtua menganggap kebutuhan nutrisi anak kurang lebih sama dengan orang dewasa. Padahal sejatinya tidak demikian. Masing-masing anak di tahapan usia yang berbeda juga memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda.

"Yang juga disayangkan adalah perhatian orangtua terhadap kebutuhan nutrisi anak yang agak terabaikan begitu anak menginjak usia sekolah," ungkapnya.

Hal itu bisa saja disebabkan diantaranya karena orangtua yang sibuk sehingga tidak sempat menyiapkan sarapan, atau faktor yang asalnya dari si anak sendiri. Ada juga orangtua yang beranggapan anak di atas 5 tahun sudah tidak membutuhkan perhatian khusus untuk makanannya. Artinya bisa disamakan dengan menu orang dewasa di rumah.

"Orangtua cenderung memperhatikan nutrisi untuk anak di bawah lima tahun, sementara anak di atas lima tahun cenderung terabaikan karena persepsi yang keliru. Masa perkembangan anak tidak hanya sampai usia 5 tahun, namun sampai usia 18 tahun," ucapnya.

Padahal kenyataannya justru lingkungan merupakan faktor penting yang bisa membahayakan kecukupan nutrisi anak. Misalnya saja di sekolah, anak menghadapi berbagai macam godaan makanan di luar yang tidak dia dapatkan di rumah. Anak di usia ini juga menjadi pemilih terhadap makanan, cenderung mengonsumsi makanan yang sama dengan mengabaikan nilai gizi.

"Kepintaran orangtua harus digunakan dalam siatuasi ini, karena jika orangtua di rumah tidak pintar-pintar memilah dan memilih menu makanan yang pas dengan selera anak, akibatnya anak akan memilih jajan di luar," tuturnya.

Hal inilah yang menyebabkan banyak terjadinya kerawanan nutrisi, misal malnutrisi (kekurangan gizi) atau overnutrisi (kelebihan gizi, identik dengan kegemukan).

"Di sinilah peran penting orangtua dalam mengarahkan anak untuk hidup sehat. Orangtua harus memahami bahwa anak membutuhkan nutrisi sesuai dengan usia dan tahapan tumbuh kembangnya," kata dokter yang melanjutkan program master yang lulus tahun 2001.

Samuel mencontohkan, misalnya saja pada anak usia 5-8 tahun yang sedang dalam masa pertumbuhan tentu berbeda dengan kebutuhan anak usia 9-12 tahun yang masuk masa pra-remaja dan usia 13-18 tahun yang memasuki masa remaja. Semakin bertambahnya umur anak, maka kesempatan untuk mengontrol mereka 100 persen hampir tidak mungkin dilakukan di antaranya adalah kesempatan untuk mengontrol apa yang dikonsumsi anak dan memberikan mereka nutrisi yang tepat sesuai dengan kebutuhan di setiap tahapan usia mereka.

"Setelah usia dua tahun, proses tumbuh-kembang anak secara bertahap dibagi menjadi masa usia sampai 5-6 tahun, masa usia sekolah 7-12 tahun termasuk di dalamnya sudah ada masa pra-remaja atau prapubertas 9-12 tahun, dan diakhiri dengan masa remaja atau pubertas di usia 13-18 tahun," ungkap dokter yang mengambil program spesialis gizi klinik Fakultas Kedoktean Univesitas Indonesia.

Di usia 5-6 tahun, Samuel mengatakan tidak banyak berbeda dengan usia sebelumnya kecuali perkembangan yang lebih ke fungsi kognisi dan sosial, misalnya mulai masuk sekolah dan berinteraksi dengan lingkungan, yaitu lingkungan sekolah.

Sedangkan masa pra-puber atau pra-remaja (9-12 tahun) dan pubertas atau remaja (13-18 tahun) terjadi karena sudah mulai ada perkembangan fungsi organ reproduksi yang menghasilkan berbagai hormon yang akan mempersiapkan kematangan fungsi reproduksinya. Terjadinya tumbuh-kembang yang cepat seperti halnya saat masa janin dan bayi bisa disebabkan juga karena pengaruh hormonal. Sehingga akan terjadi perubahan pada kebutuhan akan zat gizi dari makanan anak pada masa tersebut untuk mendukung pertumbuhan fisik dan kematangan organ reproduksi.

"Jadi sebenarnya masa prapubertas dan pubertas juga merupakan masa-masa krusial di mana kecukupan gizi harus diperhatikan untuk menopang pertumbuhan fisik dan kematangan organ reproduksi," ujar Samuel.

Masih dijelaskan Samuel, saat masuk sekolah yaitu sekitar usia 5-8 tahun, biasanya anak mulai mengenal berbagai jenis jajanan yang tidak diperoleh di rumah. Di sinilah pentingnya orangtua dalam mengarahkan buah hati mendapatkan makanan kaya nutrisi untuk menunjang tumbuh kembangnya, misalnya dengan memberinya bekal dari rumah ketimbang membekalinya uang untuk dipakai jajan.

Jika tidak sempat memasak, biasanya sekolah menyediakan jasa katering yang menunya bisa kita pilih dengan kandungan gizi yang dapat dipertanggungjawabkan, dan tentu saja disukai anak.

Untuk anak yang berusia 9-12 tahun yang berarti juga masa pra remaja dan usia 13-18 tahun yang merupakan masa remaja, para orangtua akan mengalami tantangan yang berbeda. Pada masa-masa tersebut ditandai dengan dimulainya perkembangan fungsi organ reproduksi yang menghasilkan berbagai hormon yang akan mempersiapkan fungsi reproduksinya.

"Salah satu makanan yang bisa mencukupi nutrisi untuk setiap umur dan setiap orang di antaranya adalah susu yang memegang peranan penting dalam menunjang pertumbuhan 3B (body, bone, and brain)," pesan Samuel.

Hal tersebut dikatakan Samuel, karena di masa pra-pubertas dan pubertas justru sering kali terabaikan, padahal susu penting sebagai sumber kalsium dan protein.
"Nutrisi yang tepat sesuai tahapan usia mereka dapat mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan yang semakin banyak," ucap seorang Life Coach, Novian Triwidia Jaya. (okezone.com)
Masyaallah! Ternyata, mengguncang bayi untuk tujuan apa pun sangat berbahaya. Perhatikan mengapa bisa berbahaya? Sebaiknya setelah tahu, kita sebar pengetahuan ini agar tak ada lagi bayi yang mendadak meninggal akibat SBS.

Jakarta– Orangtua kadang berusaha menghentikan tangisan bayi dengan cara menggoyang-goyangkan bayinya. Sebaiknya hal ini tidak dilakukan secara berlebihan, karena bisa mengakibatkan shaken baby syndrome (SBS).

Sindrom bayi terguncang atau shaken baby syndrome adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan salah satu bentuk kekerasan pada bayi akibat mengguncangnya terlalu keras. Seringkali hal ini terjadi karena orangtua merasa kesal bayinya tidak mau berhenti menangis atau terus merengek.

Kondisi ini biasanya terjadi pada bayi berusia kurang dari 1 tahun yang bisa mengakibatkan cedera otak parah dan permanen, cedera tulang belakang, pendarahan di mata (pendarahan retina) bahkan hingga kematian.

Data statistik dari Pusat Pengendalian Penyakit dan Pencegahan Amerika Serikat (CDC) korban dari sindrom bayi terguncang ini umumnya berusia 3-8 bulan, dan sekitar 25 persennya meninggal akibat cedera yang dialaminya.

Dikutip dari Medicinenet, Senin (2/8) bayi memiliki otot leher yang sangat lemah serta memiliki kepala yang berat dan besar untuk ukuran tubuhnya. Selain itu terdapat ruang antara tengkorak dan otak yang memungkinkan untuk perkembangan otak bayi.
Jika bayi mengalami guncangan yang keras, maka bisa menyebabkan otak di dalam tengkorak bergerak yang mengakibatkan memar jaringan otak dan merobek pembuluh darah.

Pada umumnya luka yang timbul termasuk pendarahan di sekitar otak, pendarahan di mata dan sumsum tulang belakang serta cedera pada leher. Namun pada beberapa kasus kadang ditemukan adanya patah tulang rusuk atau patah tulang lainnya.

Biasanya luka yang timbul akibat sindrom ini tidak langsung terlihat. Tapi beberapa bayi terkadang mengalami muntah atau menjadi lekas marah.

Gejala-gejala ini terjadi karena meningkatnya tekanan dalam otak akibat pendarahan atau pembengkakan. Gejala lain yang mungkin timbul adalah lesu, sesak napas dan kejang.

Bayi yang mengalami cedera akibat sindrom ini membutuhkan perawatan darurat, termasuk bantuan pernapasan dan juga operasi. Selain itu seringkali bayi memerlukan pengeringan darah di sekitar otak untuk mengurangi cedera, serta dibutuhkan perawatan lain termasuk pemeriksaan mata (opthalmologic) dan juga saraf (neurologis).

Goyangan ini yang mengakibatkan kerusakan otak serta pendarahan di dalam otak dan pada permukaan otak, sehingga dapat menimbulkan masalah serius pada otak sang bayi, dan dapat mengakibatkan masalah yang berlangsung permanen, seperti :
1. Kerusakan otak
2. Cerebral palsy
3. Kebutaan
4. Epilepsi
5. Kesulitan berbicara
6. Kesulitan belajar
7. Kesulitan koordinasi
8. Serangan jantung
9. Keterbelakangan mental

Berikut adalah TIPS untuk Mencegah
1.  Jangan pernah mengguncang bayi di bawah umur 3 tahun, dengan alasan apapun juga.
2.   Beritahukan pentingnya melindungi kepala bayi anda kepada baby sitter atau pengasuh bayi anda.
3.  Pastikan semua orang yang dekat dan sering menggendong bayi anda tahu benar bahayanya seorang bayi jika diguncang-guncang atau digoyang.
4.   Menghindari memegang bayi selama berargumen.
5.   Hindari mendisiplinkan atau menenangkan bayi dan anak ketika orangtua sedang marah.
6.   Jika orangtua tidak bisa mengendalikan emosinya, usahakan untuk beristirahat sejenak dan biarkan bayi ditangani oleh anggota keluarga lain atau teman.
7.   Jika dengan sengaja/tidak sengaja, anda mengguncang-guncang bayi anda, segera bawa bayi anda ke dokter untuk diperiksakan. Pendarahan di dalam otak hanya dapat diobati jika anda segera memberitahukan kepada dokter bahwa anda baru saja mengguncang bayi anda. Cara ini akan menyelamatkan.

Pada beberapa orang anak bahkan dapat menimbulkan kematian. Ini dikenal dengan shaken-baby-syndrome. Kenapa berbahaya?
1. Bayi memiliki kepala lebih besar dibandingkan dengan anggota tubuh yang lain, dan otot lehernya masih lemah. Jika diguncang, kepalanya akan tersentak ke depan dan ke belakang.
2. Sentakan-sentakan itu akan mengguncang otak dan merusaknya.
3. Pembuluh darah kecilnya akan ikut rusak, menimbulkan pendarahan di otak dan sekitarnya, dan juga di mata bayi.
Resiko terbesar adalah pada bayi dibawah satu tahun, tapi tidak menutup kemungkinan dapat terjadi di usia yang lebih besar. Yang harus diwaspadai adalah guncangan-guncangan ini dapat terjadi justru ketika kita asyik bermain dengan sang bayi.

Karenanya ada beberapa permainan dan aktivitas yang harus dihindari untuk mencegahnya, antara lain:
1. Melempar bayi ke udara.
2. Lari-lari sambil membawa bayi di punggung atau di kepala.
3. Kuda-kudaan (bayi naik ke punggung, naik ke kaki dan digoyang-goyang).
4. Memutar bayi.
Jangan lupa mengingatkan orang-orang di sekitar sang bayi , seperti saudara-saudaranya, pengasuhnya, kakek-neneknya, untuk tidak mengguncang bayi.



Muslimah, seringkali kita mendengar istilah 'bau tangan' disertai larangan menggendong bayi. Ternyata batasan itu tak sepenuhnya benar. Banyak manfaat yang bisa diperoleh ibu dan bayi dalam 'menggendong;. Utamanya, menggendong ternyata bisa meningkatkan kecerdasan anak. Jadi, mari hilangkan istilah bau tangan dalam pengurusan bayi :)
Saat si kecil menangis atau sedang rewel orangtua biasanya langsung menggendongnya. Ternyata banyak keuntungan yang didapat jika bayi sering digendong, salah satunya bayi akan terdorong untuk belajar dan menjadi lebih pintar.
Mahmud Ahmaddinejad menggendong bayi
Bayi yang sering digendong akan menghabiskan waktu lebih sedikit untuk menangis atau rewel, sehingga si kecil memiliki banyak waktu dan energi untuk membantunya tumbuh dan berkembang secara fisik serta mampu berinteraksi dengan lingkungannya.
Jika bayi diposisikan dalam gendongan, maka ia bisa melihat sekelilingnya dan mencoba untuk memilih serta mengambil apa yang diinginkannya. Kemampuan untuk membuat pilihan ini dapat meningkatkan kemampuannya untuk belajar.
Selain itu bayi juga terlibat langsung dalam dunia orang yang menggendongnya, seperti bayi melihat apa yang orangtuanya lihat, mendengar apa yang orangtuanya dengar serta turut merasakan yang orang lain rasakan.
Seperti dikutip dari The Baby Book karangan William and Martha Sears MD, Senin (1/3/2010) bayi yang digendong akan menjadi lebih sadar serta dapat memahami wajah, ritme langkah dan juga aroma orangtuanya seperti ekspresi wajah, bahasa tubuh, naik turunnya suara serta pola pernapasan dan emosi dari orang yang menggendongnya. Hal lainnya adalah orangtua menjadi lebih sering berinteraksi dengan bayinya sehingga membantu bayi belajar menjadi manusia.
Pengalaman-pengalaman yang didapat si kecil dari lingkungannya bisa menstimulasi saraf-saraf untuk berkembang dan berhubungan dengan saraf lainnya di dalam tubuh, hal ini turut berperan dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan otaknya serta membentuk koneksi yang baik.
Karena berbagai stimulasi yang diterimanya tersebut bayi akan dirangsang untuk belajar sehingga kemungkinan meningkatkan kemampuan kognitifnya. Kemampuan yang dapat ditingkatkan dengan menggendong bayi salah satunya peningkatan perkembangannya berbicara dan mendengar.
Suara-suara normal yang didengarnya seperti suara aktivitas sehari-hari bisa memiliki nilai belajar bagi bayi atau justru dapat mengganggunya. Jika bayi sedang sendiri maka suara tersebut bisa membuatnya takut, tapi jika bayi dalam posisi digendong maka memiliki arti pembelajaran buat si kecil.
Manfaat lain yang bisa didapatkan dengan seringnya menggendong bayi adalah ikatan yang kuat antara orangtua dan bayinya. Serta memberikan cara pengasuhan yang tepat karena keduanya saling memberi dan membentuk interaksi dua arah.
Ada berbagai gaya dalam menggendong bayi seperti:
  1. Gendongan buaian yang sangat bermanfaat bagi bayi baru lahir hingga berusia 1 tahun.
  2. Gendongan posisi meringkuk yang berguna untuk bayi baru lahir hingga usia 6 bulan.
  3. Gendongan model kanguru yang bisa dimulai saat bayi berusia 3 hingga 6 bulan.
  4. Digendong dengan kaki mengangkang yang dimulai saat bayi berusia 3-6 bulan atau sudah bisa duduk tanpa bantuan.

Muslimah, kali ini M-Care menampilkan sosok gadis kecil dengan keluguan dan bukti cinta Allah SWT. Artikel ini sungguh membuat M-Care terkagum dan makin bangga terhadap hijab. Bagaimana dengan kalian?
source: http://edition.cnn.com/
By Krista Bremer, O, The Oprah Magazine
Krista Bremer holds her daughter Aliya
 in the scarf the child decided she wanted to wear.
(OPRAH.com) -- Nine years ago, I danced my newborn daughter around my North Carolina living room to the music of "Free to Be...You and Me", the '70s children's classic whose every lyric about tolerance and gender equality I had memorized as a girl growing up in California.

My Libyan-born husband, Ismail, sat with her for hours on our screened porch, swaying back and forth on a creaky metal rocker and singing old Arabic folk songs, and took her to a Muslim sheikh who chanted a prayer for long life into her tiny, velvety ear.

She had espresso eyes and lush black lashes like her father's, and her milky-brown skin darkened quickly in the summer sun. We named her Aliya, which means "exalted" in Arabic, and agreed we would raise her to choose what she identified with most from our dramatically different backgrounds.

I secretly felt smug about this agreement -- confident that she would favor my comfortable American lifestyle over his modest Muslim upbringing. Ismail's parents live in a squat stone house down a winding dirt alley outside Tripoli. Its walls are bare except for passages from the Quran engraved onto wood, its floors empty but for thin cushions that double as bedding at night.

My parents live in a sprawling home in Santa Fe with a three-car garage, hundreds of channels on the flat-screen TV, organic food in the refrigerator, and a closetful of toys for the grandchildren.


I imagined Aliya embracing shopping trips to Whole Foods and the stack of presents under the Christmas tree, while still fully appreciating the melodic sound of Arabic, the honey-soaked baklava Ismail makes from scratch, the intricate henna tattoos her aunt drew on her feet when we visited Libya. Not once did I imagine her falling for the head covering worn by Muslim girls as an expression of modesty.

Last summer we were celebrating the end of Ramadan with our Muslim community at a festival in the parking lot behind our local mosque. Children bounced in inflatable fun houses while their parents sat beneath a plastic tarp nearby, shooing flies from plates of curried chicken, golden rice, and baklava.

Aliya and I wandered past rows of vendors selling prayer mats, henna tattoos, and Muslim clothing. When we reached a table displaying head coverings, Aliya turned to me and pleaded, "Please, Mom -- can I have one?"

She riffled through neatly folded stacks of headscarves while the vendor, an African-American woman shrouded in black, beamed at her. I had recently seen Aliya cast admiring glances at Muslim girls her age.

I quietly pitied them, covered in floor-length skirts and long sleeves on even the hottest summer days, as my best childhood memories were of my skin laid bare to the sun: feeling the grass between my toes as I ran through the sprinkler on my front lawn; wading into an icy river in Idaho, my shorts hitched up my thighs, to catch my first rainbow trout; surfing a rolling emerald wave off the coast of Hawaii. But Aliya envied these girls and had asked me to buy her clothes like theirs. And now a headscarf.

In the past, my excuse was that they were hard to find at our local mall, but here she was, offering to spend ten dollars from her own allowance to buy the forest green rayon one she clutched in her hand. I started to shake my head emphatically "no," but caught myself, remembering my commitment to Ismail. So I gritted my teeth and bought it, assuming it would soon be forgotten.

That afternoon, as I was leaving for the grocery store, Aliya called out from her room that she wanted to come.

A moment later she appeared at the top of the stairs -- or more accurately, half of her did. From the waist down, she was my daughter: sneakers, bright socks, jeans a little threadbare at the knees. But from the waist up, this girl was a stranger. Her bright, round face was suspended in a tent of dark cloth like a moon in a starless sky.

"Are you going to wear that?" I asked.

"Yeah," she said slowly, in that tone she had recently begun to use with me when I state the obvious.

On the way to the store, I stole glances at her in my rearview mirror. She stared out the window in silence, appearing as aloof and unconcerned as a Muslim dignitary visiting our small Southern town -- I, merely her chauffeur.

I bit my lip. I wanted to ask her to remove her head covering before she got out of the car, but I couldn't think of a single logical reason why, except that the sight of it made my blood pressure rise. I'd always encouraged her to express her individuality and to resist peer pressure, but now I felt as self-conscious and claustrophobic as if I were wearing that headscarf myself.

In the Food Lion parking lot, the heavy summer air smothered my skin. I gathered the damp hair on my neck into a ponytail, but Aliya seemed unfazed by the heat. We must have looked like an odd pair: a tall blonde woman in a tank top and jeans cupping the hand of a four-foot-tall Muslim. I drew my daughter closer and the skin on my bare arms prickled -- as much from protective instinct as from the blast of refrigerated air that hit me as I entered the store.

As we maneuvered our cart down the aisles, shoppers glanced at us like we were a riddle they couldn't quite solve, quickly dropping their gaze when I caught their eye.

In the produce aisle, a woman reaching for an apple fixed me with an overly bright, solicitous smile that said "I embrace diversity and I am perfectly fine with your child." She looked so earnest, so painfully eager to put me at ease, that I suddenly understood how it must feel to have a child with an obvious disability, and all the curiosity or unwelcome sympathies from strangers it evokes.

At the checkout line, an elderly Southern woman clasped her bony hands together and bent slowly down toward Aliya. "My, my," she drawled, wobbling her head in disbelief. "Don't you look absolutely precious!" My daughter smiled politely, then turned to ask me for a pack of gum.



Two little girls playing in the sun
one wore a scarf, the other wore none.

"Why do you wear a scarf?" asked the one without,
the other little girl said without a doubt

menentukan pilihan ketika kecil,
menyelamatkan ketika dewasa :)
"Allah loves me to cover my hair
so that little boys won't stand and stare,

when I grow up what I really want to be
is a well dressed Muslim lady like my pretty Mummy."

Muslim mother adjusts her daughter's hijab

Muslimah, merayakan hari ibu adalah budaya barat. Kita tak hendak menjadikan 1 hari spesial untuk ibu. Bukankah setiap hari kita musti berbakti padanya? Tiap hari adalah hari ibu. Jadi, mari kita istimewakan ibu seiap waktu....


By `Abdul-Fattah `Ashoor, Yusuf Al-Qaradawi, Faysal MawlawiIslamOnline.net, March 20, 2007
In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.
All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger.
It goes without saying that every committed Muslim is supposed to pay his parents, especially his mother, due respect. One should try to show dutifulness to one’s parents, no matter whether they are Muslim or not.
On the other hand, what Islam goes against is the idea of marking a special occasion such as celebrating the Mother’s Day in a way that implies that mothers do not deserve due respect and care except on this one day. If we are going to make the whole year a Mother’s Day, then Islam welcomes celebrating the occasion with open arms!
Indeed, Muslim scholars have maintained various opinions regarding the issue. Here below we will attempt to furnish you with Juristic views as regard this issue:
First of all, Sheikh Faysal Mawlawi, deputy chairman of the European Council for Fatwa and Research, states:
Dutifulness to parents, especially the mother, and treating them kindly is an act of worship enjoined in both the Qur’an and the Sunnah of the Prophet (peace and blessings be upon him). Being dutiful to parents is not confined to a specific time. It is an obligation that should be observed every time, as all people commonly know.
Yet, the Mother’s Day, as it’s known nowadays is a Western habit. The Westerners specified a day and called it the Mother’s Day. On that day sons and daughters show gratefulness to their mothers and offer them presents. It has become part of important feasts in the West, whereas we Muslims have no other festivals except the Lesser and the Greater Bairams. Any other celebrations are deemed mere occasions or anniversaries; and this is applied to the Mother’s Day.
The Mother’s Day implies paying more attention and exerting more effort in expressing gratitude to mothers. So there is nothing wrong in that.
However, there are two reservations worth mentioning; first, considering the Mother’s Day a feast; second, confining the task of showing dutifulness to mothers to that specific day, giving implication that throughout the whole year, just only one day is for showing love to parents. If such two anomalous points are addressed, then there is nothing wrong in considering the Mother’s Day a chance to give more care to mothers.
Muslim mother with her two children in AustraliaThus, we may take the Mother’s Day as a chance to lay more emphasis on our duty towards our mothers, as Islam enjoins us, because dutifulness to parents is a genuine Islamic teaching. But Muslims, in doing that, should never deviate from the Islamic teachings, they should do things in Islamic manners, not in Western manners. Hence, they would not be imitating the non-Islamic habits of the West.
Hence, viewed in juristic perspective, we can say that celebrating the Mother’s day is controversial among the contemporary scholars. While a group of them consider it haram (unlawful) as a kind of blind imitation of the Western non-Islamic habits, which have no benefit for Muslims, another group see it halal (lawful) on condition that showing gratitude and dutifulness to parents should not be confined to that day only.
Moreover, the well known erudite scholar Sheikh Yusuf al-Qaradawi states:
The Arab tend to blindly follow the Western in their celebration of the Mother’s Day, without trying to understand the wisdom behind inventing such an occasion.
When the Europeans found that children do not deal properly towards their parents nor give them their due right, they resorted to specifying an annual occasion for children to remedy the situation. But in Islam, mothers are to be given due respect and love every time, not only one day a year. For example, when one goes out, he kisses one’s mother’s hand seeking her pleasure and blessing.
A Muslim must not allow any gap between him and his mother, he must offer her presents every time. This indicates that Muslims can dispense with such an occasion, the Mother’s Day. Unlike the case in the West, where it’s a vogue for some children to show indifference to their mothers’ feelings, and, what’s more, it is so common to see some parents being dragged to infirmaries (as their kids have no time for them), dutifulness to parents in Islam, alongside with worshipping Allah, is a sacred duty.
In this concern, Almighty Allah says: (And We have commended unto man kindness toward parents. His mother beareth him with reluctance, and bringeth him forth with reluctance, and the bearing of him and the weaning of him is thirty months, till, when he attaineth full strength and reacheth forty years, he saith: My Lord! Arouse me that I may give thanks for the favor wherewith Thou hast favored me and my parents, and that I may do right acceptable unto Thee. And be gracious unto me In the matter of my seed. Lo! I have turned unto Thee repentant, and lo! I am of those who surrender (unto Thee).) (Al-Ahqaf 46: 15)
Reflecting on the aforementioned Qur’anic verse, we find it stressing both parents’ right, but reviewing the following verses we find them paying special care to the mother and tackling the hardships she suffers in pregnancy, fosterage and rearing children.
In this verse, Almighty Allah informs man of the debt he owes his mother since he was a fetus, passing by the process of childbirth, infancy, childhood until he comes of age. A child normally forgets the hardship which his mother underwent during pregnancy. Hence Almighty Allah draws his attention to such hardships, laying emphasis on her great status in Islam.
Muslim mother reads Quran with her daughters
Finally, Dr. `Abdul Fattah `Ashoor, professor of Qur’an Exegisis at Al-Azhar University, concludes:
Holding celebrations in honoring others and commemorating anniversaries are neither feasts nor Islamic. But one may seize any chance to express gratitude to those who deserve it. This is how we should consider the Mother’s Day. The mother has a special place in the Islamic culture, and all other civilized cultures. So it is something good to do anything to please her and show gratefulness to her.
So dedicating a day to showing good feelings towards parents, especially the mother, is by no means blameworthy as it does not contradict the Islamic teachings, nor can it be merely considered a form of joining the Western vogue of making celebrations. Conversely, it is a kind of devotion to Allah’s orders that we should be dutiful to our parents. http://www.zawaj.com/category/islamic-knowledge-new/women-in-islam/

Ada pepatah di dunia Barat: Behind every great man there’s even a greater woman. Di belakang setiap Pria Hebat, ada seorang wanita yang lebih hebat lagi yang mendorongnya dari belakang. Sepanjang sejarah Islam bertaburan tokoh wanita mulia yang telah mengukir sejarah dengan amal mereka. Sebutlah sosok ibu susu Nabi SAW, Halimah Sa’diyah, sejumlah istri Nabi SAW, sahabiyat Khansa dan lain-lain, adalah tokoh-tokoh unik yang jarang diangkat kecuali beberapa saja. Mujahidah pun ada. Bagaimana dengan masa kini?

Era kita sekarang adalah era peradaban Barat dengan segala budaya dan faham sekuler materialismenya. Dalam era ini, nilai-nilai keluarga telah berubah, apa yang dianggap berharga di masa lalu kini tak lagi dianggap penting. Cara pandang atas suatu masalah-pun sudah berubah. Bagi sebagian komunitas pendidikan merupakan barang mahal. Di sini ini acara bagi-bagi sembako merupakan acara rebutan. Beberapa partai politik-pun mengedepankan program “sembako murah” sebagai tema kampanye mereka.

Kaum ibu pasti yang nomer satu setuju dengan tema kampanye seperti ini sebab merekalah yang paling sering berurusan dengan kesulitan belanja dapur. Makan-makan-makan. Itu seolah lebih penting daripada mengusahakan pendidikan bagi anak-anak. Ironis.

fitrahnya perempuan adalah merawat anak hingga mampu
melayani diri sendiri dan menjalankan perintah penghambaan
Apakah keterlibatan wanita di masyarakat lebih penting daripada baktinya di rumahtangga? Pernahkah ada yang meneliti seberapa besarnya kerugian bangsa ini sejak wanita Indonesia semakin banyak yang bekerja di luar rumah seperti sekarang? Tanyakanlah ke pada para ahli pendidikan anak, misalnya Psikolog Anak, atau ahli Paedagogi dan Pendidikan Anak Usia Dini. Bahkan tanyakan pada Guru TK. Semua sepakat bahwa ada “golden years” (tahun emas) dalam pendidikan anak yang tak akan kembali, yaitu lima tahun pertama!

Bagaimana jika wanita yang cerdas dan berpendidikan digesa untuk mengejar amal sosial sementara anak-anaknya di rumah harus diserahkannya kepada wanita-wanita lain yang pendidikannya lebih rendah dari dirinya (yaitu pengasuh) yang juga meninggalkan anak-anak mereka di kampung untuk dididik oleh entah siapa? Siklus kekosongan pendidik utama dari kampung hingga ke kota. Tambah ironis lagi, baik di desa maupun di kota ada saja kasus balita rawan pangan dan menderita gizi buruk.

Saat ini, di desa anak peremuan masih di diskriminasi dibanding saudara laki-laki mereka dalam akses pendidikan, bahkan di desa, pendidikan masih minim dan memprihatinkan. Sementara di kota, anak peremuan dianjurkan untuk bersaing dengan saudara laki-laki mereka tanpa pendidikan tentang gender secara benar! Aneh jika kita bicara gender (jinsiyah/ berhubungan dengan jenis kelamin seseorang), maka seolah itu berarti kita harus menganjurkan wanita SETARA secara all out dengan laki-laki. Padahal dalam konsepsi Islam tentang wanita khususnya ibu, seorang ibu lebih dahulu dihargai TIGA kali dari pada bapak. Betapapun bapak yang memberi makan dan membiayai pendidikan formalnya.

Kapankah para pemimpin bangsa ini sadar tentang mana yang prioritas? Masalah pendidikan bukan semata masalah ketersediaan anggaran pendidikan sampai 20% atau harus lebih. Bukan pula semata masalah ketersediaan jumlah guru yang memadai. Untuk apa jumlah guru cukup namun wawasan pendidikan mereka masih akan mengulangi format pendidikan yang sudah usang dan tak menjawab tantangan zaman. Bukan juga semata soal kelangkaan fasilitas pendidikan formal sejak gedung sekolah yang rusak hingga buku paket yang mahal. Bukan SEMATA soal materi.
Masalah-masalah itu memang berpengaruh untuk kelancaran proses belajar mengajar, namun untuk bangsa ini, masalahnya lebih dalam dari itu.

berkiprah di luar rumah memiliki risiko besar jika ditinjau
dari segi pembentukan karakter generasi mendatang


Wanita harus berkarya, namun jika Allah SWT Memberikan padanya amanah anak, maka sudah jelas amal pertama dan utama baginya di lima tahun awal kehidupan anak-anaknya adalah bersama mereka. Boleh punya asisten dalam rumahtangga, namun sebagai pendidik utama sang ibulah yang harus hadir pada saat –saat emas dalam kehidupan anak dan mengukir kepribadian mereka. Itulah yang seharusnya prioritas bagi wanita Indonesia.

Bagi wanita desa, sebaiknya justru diberi pendidikan dan ketrampilan praktis mendidik anak, bukan untuk bekerja sebagai pengasuh di kota, namun sebagai pendidik anak mereka sendiri lebih dahulu. Bagi wanita Indonesia, apalagi muslimah, hendaknya memprioritaskan pendidikannya bagi anak-anaknya sendiri lebih dahulu sebelum berpikir melakukan amal-amal di luar rumah, betapapun hebatnya ia ditunggu di luar sana. Setidaknya lima tahun pertama!

Kapankah para pemimpin negeri ini sadar bahwa membangun Indonesia harus diawali dengan mendidik kaum ibu sebaik-baiknya, agar mereka dapat berada di tempat yang tepat dengan skill dan wawasan yang benar? Wallahua’lam 
sumber: http://eramuslim.ubik.net/syariah/benteng-terakhir/cetak/untuk-kaum-ibu

Mendengar kabar seorang ibu melahirkan dengan selamat membuat kebahagiaan memancar di hati setiap orang. Ada kalanya kebahagiaan itu mendorong kita untuk mengirimkan kado untuk si kecil. 
Ukhti shalihat, ternyata...si bayi belum memahami pentingnya berkado. Mahal atau lucunya barang yang dikirimkan. Baginya, kebahagiaan sejati hanya ada di pelukan ibu saat ia mendengar degup jantung beliau dan merasakan ASI juga belaian kasih sayangnya.
Alangkah bijaknya, jika kita mulai memperhatikan dan memberi kado untuk sang ibu. Harapannya, agar ibu merasakan gembira. Merasa terperhatikan dan termotivasi untuk pulih dari keletihan melahirkan. Ingat, Ukhti. lebih dari setengah ibu melahirkan di dunia ini mengalami sindrom bayi biru yang jika tak tertangani dengan baik maka menyebabkan depresi permanen.
cantiknya bayi baru lahir seakan mengalihkan
 perhatian  dunia dari sang ibu  pasca melahirkan
Bangun komunikasi dengan keluarga sang ibu (terutama ayah si bayi) dan peringatkan mengenai hal ini. Insyaallah perawatan bayi pun niscaya menjadi optimal. Sang ibu menikmati perannya dan bayi pun mendapatkan haknya :) 
Sindrom baby blues atau postpartum syndrome adalah sindrom pasca melahirkan, dan hampir 50% ibu pasca melahirkan mengalaminya.
Penyebab sindrom  baby blues:
  • Hormonal. Usai melahirkan kadar hormon kortisol meningkat mendekati kadar orang depresi. Pada saat yang bersamaan hormon laktogen dan prolaktin yang memicu produksi ASI meningkat, sementara kadar hormon progesteron sangat rendah. Hormon-hormon tersebut menimbulkan keletihan fisik dan memicu depresi
  • Sosial. Ibu mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan peran barunya, sang ibu merasa dijauhi oleh lingkungan dan terikat dengan si kecil yang baru lahir.
  • Fisik. Kelelahan fisik yang dialami ibu akibat aktivitas merawat si kecil sepanjang hari juga memicu sindrom ini
  • Psikologis. Ibu merasa kurang diperhatikan karena perhatian keluarga terutama suami tertuju pada bayi yang baru lahir, padahal ibu yang baru melahirkan kelelahan dan butuh perhatian. Selain itu perasaan kecewa pada perubahan bentuk tubuh juga bisa memicu depresi.

Gejala Sindrom Baby Blues

Gejala sindrom ini bermacam-macam mulai dari kehilangan nafsu makan, merasa bersalah dan tidak berharga, merasa sendiri, sesak nafas, sulit tidur, gelisah, berkeringat dingin, menangis tanpa sebab, tegang, bingung, sedih, murung, sakit, marah, dan berpikiran negatif pada suami
Dampaknya pada bayi
Bayi yang terus menerus mengalami perlakuan dari ibu yang tidak tulus akibat stress akan menjadi mudah menangis, rewel, gampang cemas, pemurung dan mudah sakit hati.
Perawatan pasca melahirkan|Cara mengatasi Sindrom Baby Blues
Mintalah bantuan untuk mengurus si kecil sehingga ibu bisa beristirahat. Banyak beristirahat pada bulan-bulan pertama setelah persalinan akan mencegah stress dan memulihkan tenaga. Selain itu, hindari makanan dan minuman yang manis dan mengandung kafein karena akan memperburuk depresi. Konsumsilah makanan yang sehat agar tubuh segera pulih. Dukungan dari suami atau orang terdekat bisa mengurangi stress, berceritalah pada mereka.

Tips M-Care: sebaiknya, ayah baru berusaha secara optimal untuk mengurangi kelelahan fisik dan batin ibu baru. mengajaknya berkomunikasi dan membangun harapan bersama agar mental ibu menguat, bounding dengan anak pun semakin dalam.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...