saudariku, ternyata, pasar sebagai salah satu tempat yang disenangi syetan lho. kenapa? ya, banyak hal. beberapa di antaranya banyak terjadi kecurangan, keculasan, penipuan, kebohongan, intrik, spekulasi/judi, saling jegal, pada lupa sholat, lupa sedekah, pelit dll. oleh karena itu, Rasulullah mengingatkan kita untuk berdoa sebelum masuk pasar dengan do'a:

Doa Ketika Masuk Pasar 855. Kami riwayatkan di dalam kitab at-Tirmidzi dan selainnya dari Umar bin Khaththab bahwa Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ دَخَلَ السُّوْقَ فَقَالَ : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَ يُمِيْتُ وَ هُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ , كَتَبَ اللهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ , وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ , وَ رَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ

“Siapa yang masuk pasar kemudian mengucapkan: (Lâ ilâha illallâh wahdahu lâ syarîka lahu lahul-mulku wa lahul-hamdu yuhyî wa yumîtu wahuwa hayyun lâ yamût bi yadihil-khairu wahuwa 'alâ kulli syai`in qadîr) 'Tiada tuhan yang patut disembah selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya seluruh kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, Dia Maha Menghidupkan lagi Maha Mematikan, Dia Mahahidup dan tidak akan pernah mati. Di tangan-Nya segala kebaikan dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu', maka akan ditetapkan baginya satu juta pahala, akan dihapuskan darinya satu juta dosa, dan akan diangkat derajatnya satu juta tingkat.”


bagaimana dengan mall/trade center? sama saja, kan? maka, mari kita bentengi diri dari berbagai hal yang "tidak kita sadari" ketika berada di pasar, mall, itc, btc, dan tc2 lainnya :)


mari ke pasar, sebelumnya jangan lupa berdoa dan menjaga diri agar mendapat hasil yang diinginkan ;)
Bagaimana sikap kita terhadap pasar? Apakah sangat gandrung dan mencintainya? Apakah merasa sangat kerasan dan senang ketika berada di dalamnya? Apakah kita termasuk orang yang sering dan gemar masuk, serta jalan-jalan di sana?


Sebelum menjawab itu semua, seorang muslim dan muslimah harus tahu bahwa dirinya tidak mencintai atau membenci sesuatu karena hawa nafsunya. Akan tetapi mencintai dan membenci sesuatu karena Allah subhanahu wata’ala. Mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah. Seorang muslim juga harus mencintai apa saja yang dapat mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala dan membenci apa saja yang dapat menjauhkan dari-Nya.


Ada Apa dengan Pasar?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya, "Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjid dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasar."Berdasarkan hadits ini, seorang muslim dan muslimah hendaknya membenci pasar, tidak merasa senang untuk terus berada di dalamnya, tidak merasa betah dan kerasan ketika berada di dalamnya dan tidak mendatanginya kecuali karena ada keperluan dan hajat yang mengharus kan untuk ke sana, apalagi pasar-pasar modern yang ada saat ini.


Mengapa? Karena pasar adalah tempat yeng melalaikan, tempat tabarruj, tempat pamer aurat, ikhtilath (campur baur pria wanita), tempat kegaduhan dan obrolan tak karuan. Allah subhanahu wata’ala membenci pasar, maka seorang mukmin juga membencinya, dia membenci apa yang dibenci Rabbnya.


Lalu, mengapa pasar dicap sebagai tempat terburuk di muka bumi? Imam Nawawi berkata, tentang sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, "Tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasar" karena pasar adalah tempat penipuan, kebohongan, riba, sumpah palsu, ingkar janji dan berpaling dari dzikrullah dan lain sebagainya.


Berapa banyak orang ditipu di pasar? Berapa banyak orang yang kecurian dan kecopetan di pasar? Berapa banyak orang dibohongi? Berapa banyak sumpah palsu terucap? Perdagangan haram dipraktekkan, janji diingkari, kezhaliman dan sikap melampaui batas? Berapa banyak pandangan khianat dan haram terjadi, obrolan tak karuan dilakukan, dan berapa banyak pula janji dan kencan penuh dosa dilakukan di sana?


Salman al-Farisi berkata, "Jika engkau bisa, jangan sekali-kali menjadi orang yang pertama kali masuk pasar dan paling akhir keluar darinya. Karena di situlah medan pertempuran dengan setan, dan di sana setan menancapkan benderanya." (atsar riwayat Muslim)


Di dalam pasar, banyak manusia lalai dari dzikrullah dan bersyukur kepada-Nya, karena hati disibukkan oleh segala yang terlihat oleh dua mata. Di sebelah sana ada barang dagangan jenis ini, warna ini, diimpor dari negri ini. Yang itu dari Perancis, yang ini dari Amerika, yang di sebelah sana dari Itali dan Jepang. Jika mata tertuju ke suatu tempat, maka akan mendapati berbagai asesoris dan perhiasan yang membuat mata tak berkedip, sementara di sudut yang lain ada etalase yang sangat mewah bukan kepalang.


Lalu, ini banting harga, itu diskon besar-besaran, di sebelah sana ada yang bersumpah menjual dengan rugi. Ada lagi yang cuci gudang, menawarkan dagangan dengan poster mencolok, memberikan hadiah kepada anak-anak, merayu para wanita pembeli, memberi hadiah kepada setiap pembeli, dan ada juga yang mengadakan kuis atau lomba dengan berbagai macam hadiah menarik. Untuk berkeliling dari satu stand ke stand lain, dari tempat satu ke tempat yang lain sudah menghabiskan waktu berjam-jam, dan menyia nyiakannya dengan tanpa guna. Bukan hanya itu saja, bahkan ada yang lebih dari itu, lebih buruk dari itu, yakni berapa banyak kemaksiatan tersebar dan berkeliaran di pasar-pasar.


Wanita dengan aroma parfum yang menyengat dari badan dan pakaiannya, baunya menggugah selera hidung sebelum mata diundang untuk memandanganya. Lalu berpasang- pasang mata lelaki memandanginya dengan tanpa henti. Padahal Nabishallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, "Wanita mana saja yang memakai parfum lalu keluar melewati sekelompok orang agar mereka mencium aromanya maka dia telah berzina, dan setiap mata juga berzina." (HR Ahmad dan Abu Dawud, dihasankan al-Albani).


Peringatan keras ini bagi wanita yang hanya sekedar memakai parfum lalu keluar melewati orang banyak. Maka bagaimana jika ditambah lagi keluarnya adalah ke pasar, supermarket, tempat terjadinya fitnah dan tempat yang dibenci Allah?


Banyak pula wanita di pasar yang mengenakan pakaian semaunya, dengan model yang ketat dan pendek, terbuka atau membentuk auratnya, memamer kan apa yang seharusnya ditutupi, lengan, leher, betis,dada, punggung dan seterusnya. Ada pula yang mengenakan sepatu tinggi (jinjit), berjalan melenggak-lenggok layaknya sedang merayu suaminya.


Ada lagi yang masuk pasar hanya sekedar bertanya harga ini dan harga itu. Ketika para pedagang dan semua orang sudah kemas-kemas untuk pulang , dan lampu mulai dimatikan dia pun keluar dari pasar tanpa membeli sesuatu apa pun.


Sementara itu di sebelah sana ada wanita yang sedang berduaan dengan seorang penjual laki-laki tanpa ada mahram dan orang lain. Mereka asyik mengobrol dengan begitu rinci tentang berbagai perlengkapan kosmetika dan bahkan tentang pakaian-pakaian pribadi si wanita dengan tanpa risih dan malu-malu.Tak ketinggalan pula para gadis dan wanita lainnya, tengok kanan dan tengok kiri, barangkali ada lelaki yang mau iseng menggoda dan mencandainya. Atau mungkin mau berseloroh dengan berbagai kalimat pujian, rayuan dan sanjungan.


Bagaimana Sikap Kita
Setelah memperhatikan uraian di atas, maka kita umat Islam, terutama para wanita muslimah hendaknya menjadi orang yang membenci pasar, karena ia merupakan tempat ikhtilat, tempat godaan syetan, dan menjadikan orang terpengaruh dan hanyut dengan apa yang disaksikan di sana. Jika seseorang terlalu sering melihat kemungkaran maka akan membuatnya terbiasa dengannya dan menganggap lumrah kemungkaran tersebut.


Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, artinya,
"Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran maka hendaknya dia mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka hendaklah dia mengubah dengan lisannya. Dan jika tidak mampu juga, maka hendaknya mengingkari dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman."


Mengingkari kemungkaran dengan hati adalah selemah-lemah iman. Jika pengingkaran dengan hati sudah tidak lagi dimiliki oleh seseorang, maka iman akan tertutup dan hati menjadi hitam gelap, maka jadilah dia orang yang tenggelam dalam syahwat dansyubhat.


Beberapa Ketentuan Masuk Pasar
Meskipun telah kita ketahui berbagai fitnah, kemungkaran dan bahaya di dalam pasar, namun kita khususnya para wanita muslimah terkadang perlu untuk membeli berbagai kebutuhan seperti makanan, minuman, pakaian dan kebutuhan rumah tangga yang memang harus dibeli di pasar. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melarang umatnya untuk masuk ke pasar. Di zaman Nabi pun, baik di masa jahiliyah atau setelah masa Islam terdapat banyak pasar. Yang penting bagi kita adalah jangan sampai menjadi orang yang gemar dan terpaut dengan pasar atau supermarket, merasa senang, betah, kerasan berada di dalam nya dan ingin terus berada di sana.


Berikut ini beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan oleh siapa saja yang akan pergi ke pasar, supermarket dan semisalnya.


Ada Kebutuhan yang Dibeli
Dalam arti, seseorang jangan masuk pasar tanpa ada tujuan untuk membeli apa-apa, karena hanya akan membuang-buang waktu. Maka tatkala kita masuk pasar haruslah ada kebutuhan nyata yang hendak dibeli.


Menentukan Sasaran
Yaitu ada kejelasan barang yang akan dibeli. Jangan sampai masuk pasar kemudian tidak tahu akan membeli apa, akhirnya hanya berkeliling dan dari satu tempat ke tempat lain tanpa tujuan yang jelas.


Meminta Izin, bagi Wanita.
Seorang wanita, ketika akan pergi ke pasar hendaknya minta izin kepada walinya. Para wanita mukmin di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan salafus shalihmeminta izin ketika akan pergi ke masjid, maka bagaimana lagi jika akan pergi ke pasar? Juga jangan pergi sendirian, agar tidak menjadi sasaran kejahilan dan kejahatan orang tak bertanggungjawab.


Harus Menutup Aurat
Bagi wanita muslimah hendaknya dengan mengenakan hijab syar'i yang menutup seluruh auratnya. Harus diingat bahwa di pasar banyak lelaki yang hatinya berpenyakit dan hobi menggoda para wanita. Jika mereka mendapati wanita yang terbuka auratnya maka akan medekatinya dan mengajak berbincang. Berbeda halnya dengan wanita yang berhijab, tentu mereka akan lebih dihormati.


Berdoa ketika Masuk Pasar.
Dengan mengucapkan,
“La ilaha illallah, wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyi wa yumit, wa huwa hayyun la yamut, biyadihil khair,wa huwa 'ala kulli syai-in qadir."
Artinya: Tidak ada ilah kecuali Allah, Yang Esa tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya seluruh kekuasaan dan pujian, Yang menghidupkan dan mematikan, Dia Maha Hidup dan tidak mati, di tangan-Nya segala kebaikan, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.


Menahan Pandangan
Sebagai bukti dari sikap hormat terhadap aturan dan hukum Allah subhanahu wata’ala, seperti tertera di dalam al-Qur’an surat an-Nur ayat 30-31 yang memerintahkan setiap mukmin dan mukminah untuk menjaga pandangan.


Bersikap Sopan
Yaitu berjalan dengan baik dan tenang, tidak banyak menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak memakai parfum bagi wanita, karena akan mengundang pandangan laki-laki lain. Bagi para wanita juga jangan banyak bertanya tentang sesuatu yang kurang perlu kepada pedagang laki-laki, namun bertanyalah sekedarnya.


Tidak Berkhalwat
Yaitu tidak berduaan antara laki-laki dengan perempuan tanpa ada orang lain dan mahramnya, baik antara penjual dengan pembeli atau selainnya.


Jangan Tergiur Mode
Seorang muslim dan muslimah punya ciri tersendiri, maka jangan sampai terpikat oleh berbagai mode dan model pakaian apa pun yang tidak sejalan dengan aturan Islam yang mulia.


Hemat
Hemat dalam berbelanja merupa kan bukti seseorang menjaga nikmat yang diberikan Allah [subhanahu wata’ala dan bukti ia bersyukur. Sedangkan isyraf(boros) dan tabdzir (menghamburkan harta) merupakan cerminan sikap meremeh kan dan menyia-nyiakan nikmat Allah.


Memilih Waktu
Hal ini sebagai upaya menjauhi ikhtilat dan desak-desakan yang biasa terjadi di pasar-pasar.


Amar Ma'ruf Nahi Mungkar
Minimal mengingkari kemungkar an dengan hati, sebagaimana telah disampaikan di dalam hadits di atas
Wallahu a’lam.


Sumber: Kutaib Darul Wathan “Ila Murtadatil Aswaq,” al-Qism al-Ilmi Darul Wathan, dengan sedikit penyesuaian. (Ibnu Djawari) http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatannur&id=285

Aneh. Mereka menangis. Menangisi kepergian orang-orang yang sebelumnya datang sebagai musuh dan mengalahkan negerinya. Bulir-bulir air mata jatuh menyentuh tanah kelahiran yang kini mulai berubah. Tidak semuanya menangis, memang. Namun rona kesedihan menjadi wajah negeri Hims pada hari itu.
Sebelumnya, Hims berada di bawah kekuasaan Romawi. Penduduknya mayoritas beragama Nasrani dan Yahudi. Sampai Islam mengalahkan militer negeri itu, justru ketika mereka mengejar kaum muslimin. Militer itu mungkin terlalu berambisi untuk mengalahkan kaum muslimin. Mereka tidak sadar akan kecerdasan Khalid bin Walid yang telah merancang strategi jitu, sebagaimana mereka tidak juga sadar akan keberanian kaum muslimin menyongsong kematian.
Setelah militer Hims kalah, kaum muslimin memasuki negeri itu untuk menggantikan tirani Romawi. Kesepakatan yang disepakati kedua belah pihak, setiap penduduk Hims membayar jizyah 1 dinar dengan jaminan keselamatan dan keamanan mereka.
Waktu bergulir begitu cepat bersama berubahnya hati manusia. Hims merasakan cinta kaum muslimin kepada mereka. Mereka menikmati kebaikan, keadilan, perlindungan, dan kedamaian dari tentara Muslim di bawah kepemimpinan Abu Ubaidah dan Khalid bin Walid. Maka, tahun 13 H atau 636 M itu menjadi saksi tetesan air mata saat tentara muslim berpamitan kepada mereka menuju Yarmuk. “Kami telah melupakan kemenangan kalian dan mempertahankan kalian,” kata Abu Ubaidah dalam sambutan perpisahannya, “karena itu kini kalian bebas menjalani urusan kalian masing-masing.” Kata-kata pengundang air mata itu mengiringi sikap yang tidak pernah dilupakan Hims. Kaum muslimin mengembalikan semua jizyah penduduk Hims.
Mata yang berkaca-kaca kini berlinang air mata. Tetesannya menjadi saksi keharuman cinta kaum muslimin. Agha Ibrahim Akram mencatat perkataan sebagian Yahudi Hims dalam buku Khalid bin Walid, The Sword of Allah : “Sungguh, pemerintahan dan keadilan kalian lebih kami senangi dari kezaliman yang dahulu kami rasakan.” Mereka juga berjanji takkan mengundang Romawi ke negeri itu. Namun yang lebih menggembirakan, kebaikan kaum muslimin itu membuat penduduk Hims berbondong-bondong memeluk Islam di belakang hari. Hidayah Allah turun membersamai cinta kaum muslimin yang dihadiahkan pada mereka.
Jihad Perang di dalam Islam memang bukan untuk motif ekonomi. Dr. Yusuf Qardhawi menjelaskan panjang lebar dalam Fiqih Jihad bahwa perang seperti itu dilarang dalam Islam. Demikian pula jihad perang bukan dimaksudkan untuk memaksa manusia masuk Islam. Bukan pula untuk melenyapkan seluruh kekufuran di penjuru dunia. Barangkali sebagian kita terkejur dengan larangan terakhir ini. Namun Dr. Yusuf Qardhawi telah mengambil kesimpulan ini dari dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah.
Tujuan jihad perang yang dibenarkan dalam Islam adalah untuk melawan agresi musuh, mencegah terjadinya fitnah atau menjaga stabilisasi kebebasan dakwah, menyelamatkan orang-orang yang tertindas, dan memberi pelajaran kepada orang-orang yang mengingkari perjanjian. Selebihnya, ketika jihad perang selesai, biarlah orang-orang kafir berinteraksi dengan Islam, menerima dakwahnya, memahami hakikatnya, merasakan kebaikannya, dan membandingkannya dengan keyakinan lama mereka. Allah yang kuasa untuk menganugerahkan hidayah-Nya. Dan hidayah itu turun, biasanya membersamai cinta.
Jihad dalam bentuknya yang lain juga demikian. Jihad siyasi, misalnya. Ia tidak bertujuan meraih kekuasaan, seperti banyak dituduhkan oleh orang-orang yang belum memahami Islam dan dakwahnya. Kekuasaan hanyalah sasaran antara. Hanya anak tangga. Agar Islam bisa mengatur negeri dengan keadilannya. Agar Islam menampakkan keseluruhan wajahnya; yang indah dan mempesona. Agar kaum muslimin bisa menghadirkan cinta, tanpa dihalangi oleh tirani penguasa. Lalu biarlah… dengan cinta yang telah diterimanya umat memilih. Berbondong-bondong menyempurnakan agamanya. Sebab hidayah itu kuasa Allah Azza wa Jalla.
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,
dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat. (QS. An-Nashr: 1-3)

kali ini, M-Care akan menampilkan beberapa hadits tentang tempat2 jin berada. (dalam artikel ini disebut dgn syetan, karena jin yang menempatinya termsauk kategori 'jahat'). terkadang kita jika melewati tempat yang sepi dan ada rasa was-was yang melingkupi. maka, sangat baik jika kita berlindung pada Allah dari godaan syetan yang terkutuk.

Tempat-tempat yang banyak ditemukan para syaitan diantaranya1. Tempat Peristirahatan Unta.
Dalam hadits Abdullah bin Mughaffal RA berkata, bersabda Rasulullah SAW:" Shalatlah kalian di tempat peristirahatan (kandang) kambing dan janganlah kalian shalat di tempat peristirahatan (kandang) unta karena sesungguhnya unta itu diciptakan dari syaitan." (HR. Ahmad (4/85), Ibnu Majah (769) dan Ibnu Hibban (5657) dan selainnya). Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah sebagaimana yang disebutkan di dalam "Majmu Fatawa" (19/41) ketika menjelaskan tentang penyebab dilarangnya shalat di tempat peristirahatan unta. Yang benar bahwa penyebab (dilarangnya shalat) di kamar mandi, tempat peristirahatan unta dan yang semisalnya adalah karena itu adalah tempat-tempat para setan.

2. Tempat Buang Air Besar dan Kecil
     Dalam hadits Zaid bin Arqam RA, dan selainnya yang diriwayatkan oleh Ahmad (4/373), Ibnu Majah (296), Ibnu Hibban ( 1406), Al Hakim (1/187) dan selainnya bahwa Rasulullah SAW, bersabda " Sesungguhnya tempat-tempat buang hajat ini dihadiri (oleh para setan, pen), maka jika salah seorang dari kalian hendak masuk kamar mandi (WC), ucapkanlah "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari setan laki-laki dan setan perempuan."Demikian banyak orang yang terkena gangguan jin adalah di tempat-tempat buang hajat.

3. Lembah-lembah.   
     Sesungguhnya jin dan setan ditemukan di lembah-lembah dan tidak ditemukan di pegunungan. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah dalam "Majmu Fatawa" (19/33) : "Lembah-lembah adalah tempatnya kaum jin karena sesungguhnya mereka lebih banyak ditemukan di lembah-lembah daripada di dataran tinggi."

4. Tempat Sampah dan Kotoran.
  Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah dalam "Majmu Fatawa" (19/41) : "(Para Setan) ditemukan di tempat-tempat bernajis seperti kamar mandi dan WC, tempat sampah, kotoran serta pekuburan."

5. Pekuburan.
    Telah datang dari hadits Abu Said Al Khudri RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:" Permukaan bumi itu semuanya masjid (bisa dijadikan tempat untuk shalat, pen) kecuali pekuburan dan kamar mandi." (HR. Ahmad (3/83), Abu Daud (492), Tirmidzi (317), Ibnu Hibban (1699), Al Hakim (1/251) serta yang lainnya). Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah sebagaimana yang disebutkan di dalam "Majmu Fatawa" (19/41) ketika berbicara tentang tempat-tempat jin : "Pada pekuburan itu terdapat sarana menuju kesyirikan sebagaimana pekuburan juga menjadi tempat mangkalnya para syaitan Lihat ucapan beliau sebelumnya. Para syaitan menuntut orang yang hendak menjadi tukang sihir untuk selalu tinggal di pekuburan. Dan disanalah para syaitan turun mendatanginya dan tukang sihir itu bolak balik ke tempat ini. Para syaitan menuntutnya untuk memakan sebagian orang-orang mati.

6. Tempat Yang Telah Rusak dan Kosong.
  Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam "Al Adab Al Mufrad" (579) dari Tsauban RA berkata : Rasulullah SAW berkata kepadaku :" Janganlah kamu tinggal di tempat yang jauh dari pemukiman karena tinggal di tempat yang jauh dari pemukiman itu seperti tinggal di kuburan."Hadits ini hasan. Berkata lebih dari satu ulama bahwa Al Kufuur adalah tempat yang jauh dari pemukiman manusia dan hampir tidak ada seorang pun yang lewat di situ. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sebagaimana yang disebutkan dalam "Majmu Fatawa" (19/40-41) ketika berbicara tentang jin : "Oleh karena itu, (para syaitan) banyak ditemukan di tempat yang telah rusak dan kosong."

7. Lautan
  Dalam hadits Jabir RA berkata : Bersabda Rasulullah SAW : " Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas lautan dalam riwayat lain di atas air dan kemudian dia pun mengutus pasukannya. (HR. Muslim: 2813).
    Dan juga datang dari hadits Abu Musa RA yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan yang lainnya dan hadits ini shahih. Sebagian ulama menyebutkan bahwa lautan yang dimaksud adalah samudera "Al Haadi" karena di sanalah tempat berkumpulnya semua benua.

8
. Celah-celah Di Bukit.
  Telah datang hadits Ibnu Sarjis RA dia berkata: bersabda Rasulullah SAW :" Janganlah salah seorang diantara kalian kencing di lubang…" Mereka berkata kepada Qatadah: "Apa yang menyebabkan dibencinya kencing di lubang?", dia berkata : "Disebutkan bahwa itu adalah tempat tinggalnya jin". Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad (5/82), Abu Daud (29), An Nasaai (34), Al Hakim (1/186) dan Al Baihaqi (1/99). Lebih dari satu ulama yang membenarkan bahwa Qatadah mendengar dari Abdullah bin Sarjis radiyallohu 'anhu,. Lihat ktab "Jami' At Tahshiil." Hadits ini dishahihkan oleh Al Walid Al Allamah Al Wadi'i dalam "Ash Shahih Al Musnad Mimma Laisa fii Ash Shahihain" (579).

9. Tempat-Tempat Kesyirikan, Bid'ah dan Kemaksiatan
   Para setan ditemukan di setiap tempat yang di dalamnya manusia melakukan kesyirikan, bid'ah dan kemaksiatan. Tidaklah dilakukan kebid'ahan dan penyembahan kepada selain Allah Subhaanahu wat'ala, kecuali syaitan memiliki andil yang cukup besar di dalamnya dan terhadap para pelakunya.

10.Rumah-rumah Yang di DalamnyaDilakukan Kemaksiatan
     Rasulullah SAW,bersabda : "Sesungguhnya malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar." (HR. Al Bukhari: 3226 dan Muslim : 2106 dari hadits Abu Thalhah dan Aisyah Radhiyallahu 'anhuma dan datang pula dari para sahabat yang lain). Jika malaikat tidak masuk ke dalam rumah, maka syaitanlah yang masuk adalah syaitan karena malaikat adalah tentara-tentara Allah Ta`ala  yang diutus untuk menjaga kaum mukminin dan menolak kemudharatan dari mereka. Termasuk kebodohan adalah jika seorang muslim mengusir malaikat dari rumahnya yang menyebabkan masuknya jin dan setan ke dalamnya. Maka makmurkanlah rumah itu dengan dzikir kepada Allah Ta`ala, ibadah, dan membaca Al Qur'an. Rasulullah SAW bersabda "Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai pekuburan karena sesungguhnya setan itu lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surat Al Baqarah." (HR. Muslim (780), Ahmad (2/337), Tirmidzi (2877) dan selainnya).

11.Pasar-pasar
    Telah datang dari Salman RA, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (2451) dan selainnya berkata : " Janganlah engkau menjadi orang pertama yang masuk pasar jika engkau mampu dan jangan pula menjadi orang paling terakhir yang keluar darinya karena pasar itu adalah tempat peperangan para syaitan dan disanalahditancapkan benderanya."Ucapan ini memiliki hukum marfu (disandarkan kepada Rasulullah SAW pen). Oleh karena itu, pasar merupakan tempat yang dibenci oleh Allah Ta`ala . Rasulullah SAW bersabda:" Tempat yang paling disukai oleh Allah Ta`ala  adalah masjid dan tempat yang paling dibenci oleh
Allah adalah pasar."Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim (671) dan selainnya dari hadits Abu Hurairah RA. Demikianlah para setan berkumpul di tempat-tempat yang di dalamnya gemar dilakukan perbuatan maksiat dan kemungkaran.

12.Jin dan Para Setan Berkeliaran di Jalan-jalan dan Lorong-lorong. 
   Dalam hadits Riwayat Bukhari (3303) dan Muslim (2012) dari Jabir RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda :" Jika telah datang malam, maka cegahlah anak-anak kalian untuk keluar karena sesungguhnya jin itu berkeliaran dan melakukan penculikan. Matikan lentera di saat tidur karena sesungguhnya binatang fasik (tikus, pen) itu kadang menarik sumbu lampu sehingga membakar penghuni rumah tersebut".
Wallahu’alam Bissowab

Ditulis oleh Abd Rahman Munawir
Segala puji bagi Allah yang berfirman:“Dan sungguh Kami telah memerintahkan orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah.” (An-Nisa’: 131)
Serta shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada hamba dan rasul-Nya Muhammad yang bersabda:
“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah , serta agar kalian mendengar dan patuh.”
Dan takwa kepada Allah adalah mentaati-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Wa ba’du:
Berikut ini adalah wasiat Islami yang berharga dalam berbagai aspek seperti ibadah, muamalah, akhlak, adab dan yang lainnya dari sendi-sendi kehidupan. Kami persembahkan wasiat ini sebagai peringatan kepada para pemuda muslim yang senantiasa bersemangat mencari apa yang bermanfaat baginya, dan sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan hal ini bermanfaat bagi orang yang membacanya ataupun mendengarkannya. Dan agar memberikan pahala yang besar bagi penyusunnya, penulisnya, yang menyebarkannya ataupun yang mengamalkannya. Cukuplah bagi kita Allah sebaik-baik tempat bergantung.
1. Ikhlaskanlah niat kepada Allah dan hati-hatilah dari riya’ baik dalam perkataan ataupun perbuatan.
2. Ikutilah sunnah Nabi dalam semua perkataan, perbuatan, dan akhlak.
3. Bertaqwalah kepada Allah dan ber’azamlah untuk melaksanakan semua perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.
4. Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nashuha dan perbanyaklah istighfar.
5. Ingatlah bahwa Allah senatiasa mengawasi gerak-gerikmu. Dan ketahuilah bahwa Allah melihatmu, mendengarmu dan mengetahui apa yang terbersit di hatimu.
6. Berimanlah kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir serta qadar yang baik ataupun yang buruk.
7. Janganlah engkau taqlid (mengekor) kepada orang lain dengan buta (tanpa memilih dan memilah mana yang baik dan yang buruk serta mana yang sesuai dengan sunnah/syari’at dan mana yang tidak). Dan janganlah engkau termasuk orang yang tidak punya pendirian.
8. Jadilah engkau sebagai orang pertama dalam mengamalkan kebaikan karena engkau akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikuti/mencontohmu dalam mengamalkannya.
9. Peganglah kitab Riyadlush Shalihin, bacalah olehmu dan bacakan pula kepada keluargamu, demikian juga kitab Zaadul Ma’ad oleh Ibnul Qayyim.
10. Jagalah selalu wudlu’mu dan perbaharuilah. Dan jadilah engkau senantiasa dalam keadaan suci dari hadats dan najis.


Setiap bani Adam tidak pernah tahu kapan dan di bumi mana ia akan meninggal. Maka jika ada orang lain yang masih mempunyai hak atas dirimu atau engkau mempunyai hak atas orang lain, atau engkau ingin meninggalkan wasiat tertentu sehubungan dengan hartamu, maka segeralah menulis wasiat. Sebab memang dianjurkan untuk segera menulis wasiat, sekalipun penulisan wasiat ini tidak akan mendekatkan ajalmu, dan tidak menulis wasiat pun bukan berarti menjauhkan ajal. Yang jelas, manusia tidak tahu kapan ajal menghampirinya.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Tidaklah layak bagi orang muslim yang mempunyai sesuatu yang hendak diwasiatkan selagi masih hidup selama dua malam, melainkan wasiatnya harus sudah ditulis di sisinya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)
Ibnu Umar berkata, “Semenjak kudengar sabda beliau inh, tidak pernah lewat satu malam pun, melainkan aku sudah mempunyai wasiat.”
Hadits ini merupakan dalil pensyariatan segera menulis wasiat, karena dikhawatirkan ajal akan menjemputnya. Berapa banyak orang yang meninggal dunia tatkala masih dalam keadaan sehat atau pun sedang sakit, padahal dia mempunyai harta kekayaan yang melimpah, masih mempunyai hak terhada orang lain dan ada orang lain yang mempunyai hak atas dirinya, padahal dia juga ingin membuat sedikit wasiat sehubungan dengan hartanya, agar segala sesuatu menjadi beres setelah dia meninggal dunia. Tetapi sebelum semua itu terwujud, ajal sudah terlanjur menghampirinya.
Tidak perlu menangguhkan pembuatan wasiat hingga ada tanda-tanda kematian. Hal ini didasarkan kepada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tatkala beliau ditanya seseorang, “Apakah shadaqah yang paling besar pahalanya?”

Beliau menjawab, “Engkau segera mengeluarkan shadaqah selagi dalam keadaan sehat dan kikir, tatkala engkau takut kemiskinan, mengharapkan kekayaan dan engkau meremehkan hingga ruh mendekati tenggorokan. Telah kukatakan begini kepada fulan, kukatakan begini kepada fulan, dan fulan mempunyai apa yang dishadaqahkan.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)
Makna hadits ini, biasanya sifat kikir itu menyertai keadaan sehat. Jika shadaqah dikeluarkan dalam keadaan seperti itu, dengan niat yang baik, maka pahalanya paling besar. Keadaan ini berbeda dengan orang yang mengharapkan kematian dan tidak punya harapan untuk hidup serta tidak mempunyai minat terhadap harta. Pahala shadaqah dalam keadaan seperti ini tidak sebesar pahala keadaan yang pertama.
Namun engkau tidak boleh berwasiat lebih dari sepertiga hartamu, yang didasarkan kepada hadits Sa’id bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, dia pernah ditanya tentang keinginannya untuk berwasiat dengan seluruh hartanya. Beliau menjawab, “Tidak.” Dia bertanya, “Kalau dengan dua pertiganya?” Beliau menjawab, “Tidak.” Kemudian beliau bersabda, “Sepertiga, dan sepertiga itu adalah banyak.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Andaikan manusia berwasiat kurang dari sepertiga atau seperempat hartanya. Sebab Rasulullah pernah bersabda, ‘Sepertiga, dan sepertiga itu adalah banyak.”
Dalam suatu riwayat disebutkan, “Aku ingin agar manusia berwasiat kurang dari sepertiga hingga seperempat hartanya.”
Sumber: Hiburan Bagi Orang Sakit karya Abdullah bin Ali Al-Ju’aitsin (penerjemah: Kathur Suhardi), penerbit: Pustaka Al-Kautsar cet. Kelima, November 1999, hal. 181-183. http://fadhlihsan.wordpress.com/2010/06/18/segeralah-menulis-wasiat/

Menulis dalam Islam merupakan suatu kewajiban setelah perintah untuk membaca(belajar, meneliti dan menelaah). Menulis berarti menyimpan apa yang telah kita baca dalam sebuah media yang bisa diakses oleh siapa saja. Dalam perkembangannya, menulis memiliki peran yang sangat urgen dalam sejarah kejayaan umat Islam beberapa abad silam.
Semua ulama yang menjadi arsitek kejayaan Islam masa lalu adalah para penulis ulung yang telah menghasilkan berbagai buah karya mereka yang sampai saat ini masih menjadi rujukan umat Islam sedunia dalam berbagai disiplin keilmuan. Bahkan, Eropa yang kemajuannya hari ini telah jauh meninggalkan dunia Islam ternyata pernah mengekor pada kemajuan umat Islam masa silam. Dan berbagai kemunduran umat Islam dewasa ini bisa dipastikan karena tradisi membaca dan menulis yang pernah dipopulerkan oleh para ulama masa lalu telah ditinggalkan.
Menulis Sebagai Ibadah
Faktor yang harus dijadikan sebagai pijakan dasar untuk menulis adalah orientasi yang jelas. Menulis harus ada orientasi ke-akhiratan, artinya kegiatan menulis harus bisa bernilai ibadah. Tatkala hal ini telah terpenuhi maka aktifitas menulis akan menjadi suatu kenikmatan tersendiri yang bahkan akan membuat para penulis semakin termotivasi untuk menulis.
Disamping itu, menulis merupakan pekerjaan yang sangat mulia karena ia mengambil peran kenabian dalam hal menyampaikan berbagai kebenaran yang masih tersembunyi kepada khalayak ramai/publik(umat). 4 (Empat) sifat Rasul adalah etika yang mesti dipenuhi oleh seorang penulis. Pertama, ‘Shiddiq’ atau benar. Seorang penulis harus menyampaikan kebenaran dalam isi tulisannya.
Kedua, ‘Tabligh’ atau menyampaikan. Kegiatan menulis adalah bagian dari interpretasi dan transmisi sifat tabligh ini. Disamping itu, kewajiban untuk menyampaikan bagi seorang penulis bisa dimaknai sebagai etika membuat sebuah tulisan, agar sebuah tulisan bernilai ibadah/pahala disisi Allah maka tulisan itu harus mengandung nilai kebenaran dalam penyampaiannya.
Ketiga, ‘Amanah’ atau terpercaya. Tulisan yang disajikan harus memenuhi kualifikasi amanah, hal ini bisa dilakukan jika penulis itu sendiri adalah seorang yang memiliki karakteristik ‘amanah’ atau terpercaya, artinya ia tidak hanya pandai menulis, menasehati atau mengkritik orang lain, tapi juga berupaya agar ia mampu menyelaraskan antara perkataan dan perbuatannya. Merupakan dosa besar jika memerintahkan orang lain mengerjakan suatu kewajiban sementara dia sendiri tidak mengindahkannya.
Keempat, ‘Fathanah’ atau cerdas. Seorang penulis harus memenuhi persyaratan ‘cerdas’ dalam menulis. Hal ini bisa dipahami karena menulis tanpa ilmu akan menyebabkan berkurangnya unsur-unsur kebenaran yang tersampaikan, atau bahkan jauh sama sekali dari kebenaran, dan bisa diprediksi pada akhirnya syaithan-lah yang akan menjadi gurunya. Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Menulis tanpa membaca berarti kita menyampaikan sesuatu tanpa dasar yang valid dan otentik yang pada satu waktu tertentu akan membuat kita menyampaikan suatu kekeliruan yang fatal. Sebaliknya, membaca tanpa menulis berarti membiarkan apa yang ada di dalam otak kita tak tereksplorasi dengan sempurna.

Saudariku, mari mulai menulis. Menulis tentang apa saja. Tahukah kalian, menulis itu banyak manfaatnya. Salah satunya sebagai terapi bagi diri. kalian yang sudah biasa online bisa pakai jasa blog yang free untuk menuangkan ide atau mencurahkan perasaan. share pada sesama blogger atau pun mendokumentasikan pengalaman, artikel penting dan catatan2 lainnya. Ditambah, jika saling share link. insyaallah kontak di hati semakin dalam ^^ 


hm...seru, kan? Yuk, baca artikel berikut

Menulis merupakan salah satu kegiatan yang paling spektakuler! Mengapa begitu? Banyak manfaat menulis yang bisa kita peroleh, termasuk sebagai terapi diri untuk meraih kesuksesan. Enggak percaya? Coba baca ulasan saya berikut ini.

Terapi! Satu kata yang identik dengan penyembuhan diri dan proses pernormalan kembali suatu kinerja tubuh sebagaimana mestinya, baik yang bersifat fisik maupun psikis. Terapi identik dilakukan oleh ahli klinis, seperti dokter, psikiater, maupun psikolog. Terapi digunakan sebagai langkah untuk mengaktifkan kembali kinerja tubuh yang dianggap mempunyai masalah. Jadi, terapi dimaksudkan agar mempercepat proses penyembuhan yang dilakukan oleh para ahli klinis tersebut.

Nah, kita pastinya mempunyai permasalahan dalam hidup, sedikit atau banyak. Masalah merupakan hal wajar yang dialami oleh setiap manusia. Jarang sekali ada orang yang tidak pernah mengalami masalah. Masalah akan membantu kita dalam mengembangkan diri dan membuat kita semakin survive (kemampuan bertahan hidup). Tidak ada hal berbeda yang dialami ketika kita menghadapi masalah. Perbedaannya terletak pada cara kita dalam menyelesaikan masalahnya. Banyak cara yang bisa digunakan untuk menyelesaikan sebuah masalah, salah satunya dengan menulis diari.

Hal yang perlu kita sadari adalah, tidak setiap hal yang bermasalah saja yang memerlukan terapi. Terapi dapat dilakukan setiap saat agar kita dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan, dan juga sebagai hal yang berguna untuk merefleksikan setiap hal yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.

Orang kadang tidak bisa merasakan ada masalah yang muncul sampai dengan adanya hal destruktif (merusak), yang membuat kehidupan seseorang itu tidak stabil. Diperlukan sebuah kepekaan atau kesadaran diri, agar kita dapat merasakan hal-hal yang kiranya membuat kita tidak nyaman, serta membuat sebuah masalah baru yang sering kali tidak kita sadari.

Menulis diari ini merupakan kegiatan yang sangat populer bagi sebagian orang, mulai dari anak kecil sampai orang dewasa. Dan, yang membuat hal ini menarik, diari merupakan hal yang tidak asing dalam kehidupan sehari-hari. Sedari kecil kita dibiasakan oleh orang tua kita untuk menulis diari. Hal yang ditulis biasanya merupakan kejadian sehari-hari yang berkesan bagi kita.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...