Muslimah, bacalah artikel ini dengan seksama. temukan jawaban dari kegundahan kita tentang ASPARTAME!

Diabetes memang paling mudah terpancing dengan makanan yang manis. Maklum, memang makanan manis tidak diperbolehkan dikonsumsi oleh diabetisi. Tidak jarang seorang diabetisi mencoba menggunakan pemanis buatan untuk sekedar memuaskan kehausannya akan rasa manis dengan cara menggunakan pemanis buatan.





Pada tanggal 25 Maret 2010 yang lalu saya posting sebuah artikel tentang aspartam dengan judul Rumor Bahaya Aspartam Bukan Statement IDI. Nah kali ini saya sajikan sebuah artikel khusus tentang Aspartam kepada rekan-rekan diabetisi yang secara diam-diam (baca: membohongi diri sendiri) menggunakan pemanis buatan untuk mendapatkan rasa manis pada makanan dan minumannya. Sebaiknya Anda mengetahui secara lebih mendalam tentang apa itu aspartam? Dan mengapa aspartam berbahaya?
Aspartam adalah pemanis buatan yang tersusun dari 2 macam asam amino yaitu asam aspartat dan fenilalanin. Ia ditemukan pada tahun 1965 oleh James Schslatte sebagai hasil percobaan yang gagal. Asam aspartat dan fenilalanin sendiri merupakan asam amino yang menyusun protein, khusus asam aspartat, ia juga merupakan senyawa penghantar pada sistem saraf (neurotransmiter).
Aspartam, dikenal juga dengan kode E951, memiliki kadar kemanisan 200 kali daripada gula (sukrosa), dan banyak dijumpai pada produk-produk minuman dan makanan/permen rendah kalori atau sugar-free. Nama dagang aspartam sebagai pemanis buatan antara lain adalah Equal, Nutrasweet dan Canderel.
Aspartame diproduksi oleh perusahaan kimia bernama Monsanto. masuk pasar Amerika sejak tahun 1981 dan di Inggris pada tahun 1982. Aspartame telah dipasarkan ke seluruh dunia sebagai pengganti gula dan dapat dijumpai pada banyak jenis minuman ringan untuk diet.
Senyawa kimia sejenis alkohol yang terdapat dalam Aspartame, di dalam lambung berubah menjadi formaldehid (formalin) yang kemudian mengalami perubahan menjadi senyawa asam yang bernama asam format, sehingga pada akhirnya menimbulkan peningkatan derajat keasaman dalam darah, atau asidosis metabolik.

Senyawa asam yang terbentuk tersebut serupa dengan racun pada sengat semut api. Ditengarai pula bahwa formaldehid yang terbentuk dapat terakumulasi dalam sel, kemudian bereaksi dengan berbagai enzim dan DNA di mitokondria maupun inti sel, sehingga berpotensi mencetuskan keganasan atau kanker pada pengguna jangka panjang.
Penelitian dengan tikus percobaan yang dilaporkan dalam majalah SCIENCE bulan Juli 2007, memperlihatkan bahwa dengan menggunakan kadar Aspartame yang lebih rendah dari dosis yang dikonsumsi oleh manusia, sudah dapat menyebabkan timbulnya kanker kelenjar getah bening (limfoma maligna) dan kanker darah (leukemia), dan bila menggunakan dosis lebih tinggi akan menimbulkan keganasan pada seluruh organ tubuh.
Sengaja atau tidak, zat berbahaya tersebut masuk ke tubuh lewat makanan maupun minuman yang dikonsumsi setiap hari. Berbagai problem kesehatan seperti tumor otak, keganasan kelenjar getah bening, leukemia, lupus, gangguan nyeri otot, dan kepikunan sebagai akibat perubahan kimiawi di jaringan otak dan berpotensi mematikan pada penderita Parkinson, belakangan ini banyak dikaitkan dengan merebaknya penggunaan Aspartame.
Hal tersebut hanya beberapa contoh dari sekian banyak masalah yang dapat terjadi akibat mengonsumsi Aspartame. Penderita diabetes sering kali terpancing untuk menggunakan produk ini, tanpa menyadari bahwa mengonsumsinya dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan kematian akibat koma ketoasidosis.
Bila ada produk yang mengklaim bahwa produk itu bebas gula, berhati-hatilah, karena hampir pasti mengandung Aspartame.
Analisa 164 penelitian yang telah dipublikasikan, dilakukan oleh Professor Ralph G Walton, dari Northeastern Ohio Universities College of Medicine, di mana dari 74 penelitian yang disponsori oleh industri yang menggunakan Aspartame dilaporkan bahwa tidak ditemukan adanya masalah,
sedangkan dari 90 penelitian independen yang tidak dibiaya oleh industri, 83 penelitian (92 persen) didapatkan satu atau lebih masalah gangguan kesehatan akibat pemberian Aspartame.
Belakangan diketahui, bahwa dari tujuh penelitian yang tidak ditemukan masalah, enam penelitian dilakukan di bawah pengawasan FDA (Food and Drug Administration), dan mantan anggota komisi di badan tersebut,
pada akhirnya bekerja pada industri Aspartame setelah mengeluarkan sertifikat tidak berbahaya. Keenam penelitian tersebut kemudian dikategorikan sebagai disponsori oleh industri.
Hal serupa terjadi dengan industri rokok. Seluruh penelitian yang disponsori oleh industri rokok sebelumnya menyebutkan bahwa rokok tidak menimbulkan masalah kesehatan. Ini menunjukkan bahwa kepentingan bisnis begitu kuat sehingga mengalahkan keselamatan masyarakat luas.
Tekanan besar yang diberikan oleh para peneliti independen dan organisasi kesehatan melalui pemerintah, barulah pada akhirnya memaksa industri rokok mencantumkan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh rokok.
Gejala Keracunan Aspartame
Berbagai gejala dapat timbul sebagai akibat keracunan Aspartame, pada umumnya dibagi menjadi tiga tipe. Pertama, reaksi keracunan akut yang timbul dalam kurun waktu 48 jam setelah mengonsumsi produk yang mengandung Aspartame.
Kedua, efek keracunan kronis dapat timbul dalam hitungan hari hingga tahun setelah mengonsumsi Aspartame jangka panjang. Ketiga, efek toksik yang tidak atau sulit dikenali oleh pengguna Aspartame.
Pada survei epidemiologis, dari 551 orang yang dilaporkan mengalami keracunan Aspartame, gejala yang timbul pada keracunan akut ialah mual, muntah, nyeri perut, mata kabur, pandangan menyempit, nyeri kedua bola mata, hingga kebutaan, jantung berdebar, dan sesak napas.
Pada keracunan kronis, gejala yang sering timbul adalah perubahan pola menstruasi, rambut rontok, rasa haus yang berlebihan, nyeri pada persendian, mudah mengalami infeksi.
Sakit kepala, telinga berdenging, pusing, penurunan daya ingat, depresi, mudah tersinggung, kecemasan berlebihan adalah efek toksik yang sering kali tidak disadari, baik oleh dokter maupun yang bersangkutan, sehingga menjalani berbagai macam pemeriksaan maupun penggunaan obat yang tidak perlu.
Bila ada gejala seperti tersebut, yakinkan terlebih dahulu bahwa tidak ada riwayat mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung Aspartame.
Berikut ini langkah pencegahan sederhana yang dapat dilakukan. Pertama, lindungi diri sendiri. Hentikan mengonsumsi segala jenis makanan maupun minuman yang mengandung Aspartame. Selalu baca setiap label makanan dan minuman yang akan Anda beli atau konsumsi untuk memastikan ada tidaknya kandungan zat tersebut.
Kedua, ganti Aspartame dengan pemanis yang sehat. Carilah pemanis yang berasal dari bahan alamiah, bukan pemanis buatan. Jangan terkecoh dengan reklame produk pemanis buatan yang beredar luas di pasaran.
Ketiga, berbagi informasi dengan teman, kerabat dan siapapun yang Anda kasihi, agar tidak mengonsumsi Aspartame dengan dosis sekecil apapun.
Keempat, akses informasi tentang Aspartame yang selalu melakukan pembaruan data melalui internet sangat penting untuk diketahui oleh publik. Salah satu portal yang dapat diakses adalah Aspartame and Nutrasweet Toxicity Info Center.

1 komentar:

cathelea173 mengatakan...

http://hoaxhariini.blogspot.com/2010/11/aspartame-penyebab-pengerasan-otak.html

Snopes.com dengan tegas menyatakan itu adalah hoax dan memberikan berbagai referensi dari berbagai badan dan organisasi yang kredibel antara lain FDA dan Massachusetts Institute of Technology.

About.com bagian Urband Legends juga menyatakan hal yang sama. Mereka juga menyediakan berbagai link dari institusi-institusi ternama dan dapat dipercaya, antara lain dari U.K. Food Standard Agency

Detik.com memuat hal ini dan menyatakan hoax tersebut telah dibantah oleh BPOM maupun Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang menyatakan tidak pernah mengeluarkan berita hoax semacam itu

Dari semua badan dan institusi yang ada, seperti Food and Drug Administration (FDA), European Commission's Scientific Committee on Food (SCF), semua menyatakan aman untuk mengkonsumsi aspartame per hari sebanyak 50 mg/kg berat badan (menurut FDA) atau 40 mg/kg berat badan (menurut SCF).

Aspartame hanya tidak direkomendasikan dikonsumsi oleh beberapa orang di dunia ini yang menderita kondisi genetik yang disebut phenylketonuria (PKU). karena salah satu asam amino dalam aspartame, phenylalanine tidak bisa dimetabolisme oleh mereka sehingga dapat menyebabkan gejala mual-mual, pusing dan lainnya.

Sebagaimana dikatakan di About.com:
Carefully controlled clinical studies show that aspartame is not an allergen. However, certain people with the genetic disease phenylketonuria (PKU), those with advanced liver disease, and pregnant women with hyperphenylalanine (high levels of phenylalanine in blood) have a problem with aspartame because they do not effectively metabolize the amino acid phenylalanine, one of aspartame's components. High levels of this amino acid in body fluids can cause brain damage. Therefore, FDA has ruled that all products containing aspartame must include a warning to phenylketonurics that the sweetener contains phenylalanine

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...