Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan
Maag atau penyakit gastritis yang dalam bahasa Yunani berasal dari kata gastro (perut/lambung) dan itis (peradangan) adalah penyakit yang bersifat psikosomatis, artinya penyakit ini berkaitan erat dengan faktor psikologis dan sistem saraf somatik. Sistem syaraf somatik sendiri memiliki hubungan dengan sistem syaraf otonom dimana sistem syaraf ini juga berperan dalam mengatur pergerakan peristaltik lambung dan pelepasan zat-zat kimia dalam lambung. Oleh sebab itu faktor stess berkaitan erat dengan penyakit ini disamping memang ada beberapa faktor lainnya yang dapat menyebabkan terjadinya maag seperti kebiasaan merokok, mengkonsumsi alkohol, infeksi oleh bakteri Helicobacter pylori, maupun karena efek samping dari pemakaian obat-obat Anti Inflamasi Non Steroid (AINS) seperti Ibuprofen, Piroxicam, dan sebagainya.

Pada beberapa kasus, gastritis dapat menyebabkan terjadinya Ulcer, yaitu terputusnya kontinuitas mukosa gastrointenestinal (selaput permukaan lambung) yang meluas sampai jaringan epitel sehingga terjadi iritasi atau perdarahan pada jaringan tersebut yang dalam bahasa sehari-hari sering disebut borok. Ulcer juga tidak hanya terjadi pada lambung, melainkan dapat juga terjadi pada saluran eshopagus (tukak lambung), duodenum(usus dua belas jari) dan jejunum (usus halus).

Gejala maag sendiri dapat berupa rasa perih atau sakit seperti terbakar pada perut bagian atas disertai dengan rasa mual, muntah, kehilangan selera makan, kembung, kehilangan berat badan, dan perut bagian atas terasa penuh apabila sehabis makan. Namun, dari beberapa gejala di atas terkadang memiliki persamaan gejala dengan beberapa penyakit yang menyerang lambung, seperti ulkus peptikum, refluks esophagus (arus balik asam lambung), dan gastroenteritis. Maag sendiri bukan penyakit tunggal, tetapi terbentuk melalui beberapa kondisi yang kesemuanya dapat mengakibatkan peradangan pada lambung.

Lambung adalah organ yang berbentuk kantung kosong yang terletak pada bagian kiri atas perut tepat di bawah tulang iga. Lambung orang dewasa mempunyai panjang + 10 inchi dan dapat mengembang untuk menampung makanan dan minuman sebanyak 1 gallon. Di dalam lambung terdapat sebuah cincin yang mengatur masuknya makanan dan akan menutup apabila makanan telah masuk ke dalam lambung. Dinding lambung terdiri dari lapisan otot yang kuat dan berfungsi untuk menghancurkan makanan dengan disertai 35.000.000 enzim yang berfungsi dalam membantu penguraian secara kimiawi. Salah satu komponen cairan lambung adalah asam hidroklorida (HCL) yang bersifat sangat korosif sehingga sebuah paku besi pun dapat larut dalam cairan lambung ini. Maka, untuk mencegah terjadinya kehancuran lambung, mukosa lambung melepaskan ion bicarbonate sehingga mukosa dinding lambung tidak mengalami kerusakan. “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk”(Q.S. At-Tin:4).

Pada dasarnya PH pada lambung mengkondisikan mikroorganisme tidak dapat hidup di dalamnya, kecuali mikroorganisme yang tahan terhadap PH asam. Namun pada kondisi dimana manusia tidak berlaku bijaksana dalam mengkonsumsi makanan dan minuman serta dalam mengendalikan emosi sehingga memicu terjadinya penyakit pada lambung seperti penyakit maag. “Tidak ada ‘bencana’ yang lebih buruk yang diisi oleh manusia dari pada perutnya sendiri…”(H.R. At-Tirmidzi). Kebanyakan kasus-kasus maag terjadi karena akumulasi kebiasaan yang tidak sehat, seperti pada kasus depresi yang diiringi dengan mengkonsumsi alkohol dan merokok sebagai pelarian. Pada kebanyakan orang yang normal pun tidak lepas dari kebiasaan yang merusak lambung.

Terkadang karena kesibukan sehari-hari, orang sering menyepelekan makan dengan makan tidak teratur, menunda waktu makan, makan tergesa-gesa dalam porsi besar. Kebiasaan yang tidak sehat juga sering diperparah dengan mengkonsumsi vitamin C (Asam Askorbat) dalam kondisi perut kosong dengan alasan untuk menjaga tubuh agar tidak sakit, padahal Asam Askorbat sintetis bersifat mengiritasi lambung. Dalam kondisi lambung yang telah teriritasi pun terkadang masih digampangkan oleh orang tersebut dengan mengkonsumsi obat maag semaunya. Padahal jenis obat maag yang sering dikonsumsi seperti antasida memiliki efek samping membuat konstipasi jika dikonsumsi dalam akumulasi dosis besar/terus-menerus.
Sesungguhnya jauh-jauh hari Islam telah mengingatkan dan mengantisipasi timbulnya penyakit pada sistem pencernaan termasuk maag. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan marfu’,“Malulah kepada Allah dengan sebenar-benar rasa malu.”Para sahabat bertanya, “Apakah sebenar-benarnya rasa malu itu?” Beliau menjawab, “Menjaga kepala beserta isinya dan menjaga perut beserta isinya serta mengingat kuburan dan kematian.” Dalam hadits ini disandingkan antara anjuran menjaga kepala dan menjaga perut, dimana keinginan syahwat terhadap makan dan minum apa yang diharamkan maupun makan dan minum dengan berlebihan dimulai dari pandangan mata terhadap makanan tersebut sehingga manusia makan dan minum tanpa rasa malu dan tanpa merasa malu mendzolimi perutnya.

Al-Harats, seorang tabib bangsa arab berkata “ Lambung manusia itu tempatnya segala penyakit, sedangkan pencegahan itu pokok dari segala pengobatan.” Dengan mengutamakan rasa malu dalam makan dan minum tidak berlebihan maupun mengkonsumsi barang-barang yang merusak maka manusia telah menempuh penyembuhan tanpa efek samping. Zat-zat iritan dan bersifat toksik (beracun) seperti alkohol, nikotin, opiat sangat cepat terserap oleh lambung dan saluran pencernaan, maka dengan demikian akan mengikis perlindungan mukosa saluran cerna.”Barangsiapa yang berobat dengan khamr, niscaya Allah tidak akan memberinya kesembuhan.”

Makan dan minum berlebihan juga memicu terjadinya penyakit seperti maag, oleh sebab itu Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wa Sallam mencela tindakan tersebut.”Seorang mu’min makan dengan satu perut, dan orang kafir makan dengan tujuh perut.”(H.R.Bukhari).

Makan dengan berlebihan dapat memicu pelapasan asam lambung berlebihan dan seperti apa yang telah dipaparkan di atas maka hal tersebut akan menyebabkan iritasi pada lambung. Maka benar kiranya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda “Berpuasalah kamu, niscaya kamu akan sehat. Berpuasa juga memiliki pengaruh terhadap pengendalian enzim saluran cerna dan mengistirahatkan organ pencernaan sehingga dapat mencegah pergesekan makanan di dalam lambung. Dengan bersikap lebih malu dalam mengkonsumsi makanan baik dengan dara berpuasa maupun mengikuti cara makan yang dianjurkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka dapat menjadi upaya penyehatan lambung tanpa efek samping dan hemat biaya. Wallahu A’lam.

Oleh: Joko Rinanto (Disari dari Tabloid Bekam Edisi 2/2010)
Jakarta, Sebagian besar ayah menghabiskan waktunya di luar rumah untuk bekerja dan hanya punya sedikit waktu untuk anak-anaknya. Sebenarnya ayah harus punya waktu bersama anaknya untuk meningkatkan hubungan dan membuat keluarga kompak karena saling mendukung.

Psikolog telah menemukan bahwa pasangan akan memiliki hubungan yang lebih kuat dan kompak ketika ayahnya punya waktu lebih banyak untuk bermain dengan anaknya.

"Anda tentu bisa memiliki hubungan orangtua yang saling mendukung tanpa berbagi tanggung jawab dan kasih sayang yang sama, tapi itu bukan resep untuk semua pasangan," ujar Profesor Sarah Schoppe-Sullivan dari Ohio State University, seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (1/2/2011).

Prof Schoppe-Sullivan dan rekan menyurvei 112 pasangan orangtua yang memiliki anak berusia 4 tahun. Pertama-tama pasangan diminta mengisi kuesioner yang menanyakan seberapa sering orangtua terlibat dalam kegiatan bermain dengan anak-anaknya serta seberapa dalam kegiatan pengasuhan.

Peneliti kemudian mengamati pasangan selama 20 menit dalam membantu anaknya menyelesaikan dua tugas yaitu menggambar foto keluarga dan membangun rumah-rumahan dari balok-balok kayu. Kedua tugas ini terlalu sulit untuk dilakukan anak-anak dan membutuhkan bimbingan orangtua.

Tugas-tugas ini memberikan peneliti kesempatan untuk mendeteksi seberapa banyak orangtua yang saling mendukung atau justru saling menjatuhkan satu sama lain dalam hal pengasuhan.

Secara umum hasil penelitian menunjukkan ketika ayah memiliki waktu untuk bermain dengan anak-anaknya maka pasangan ini akan menunjukkan pola pengasuhan yang saling mendukung satu sama lain. Studi ini dilaporkan dalam jurnal Developmental Psychology.

Hasil temuan ini tetap sama bahkan ketika peneliti membandingkan beberapa faktor lain seperti pendapatan keluarga, pendidikan ayah dan jam kerjanya, besarnya keluarga serta berapa lama pasangan tersebut menjalin hubungan.

Setiap orangtua memang memiliki metode tersendiri dalam mengasuh anak-anaknya yang kadang tidak selalu sama. Tapi tak ada salahnya bagi para ayah untuk meluangkan waktunya agar bisa bermain dengan anak.


Vera Farah Bararah - detikHealth
Bertengkar adalah fenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga, kalau ada seseorang berkata: "Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya!" Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri atau ia tengah berdusta.

Yang jelas kita perlu menikmati sa'at-sa'at bertengkar itu, sebagaimana lebih menikmati lagi sa'at sa'at tidak bertengkar. Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi. Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa mereguk hikmah,betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental,lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi.

Salah satu diantaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala kita bertengkar, dari beberapa perbincangan hingga waktu yang mematangkannya, tibalah kami pada sebuah Memorandum of Understanding, bahwa kalau pun harus bertengkar, maka :

1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama'ah.
Cukup seorang saja yang marah marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjama'ah, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika ia marah dan saya mau menyela, segera ia berkata "STOP" ini giliran saya! Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam hati : "Kamu makin cantik kalau marah, makin energik..." Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi... "Duh kekasih... bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu ...."

Demikian juga kalau pas kena giliran saya "yang olah raga otot muka," saya menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya:) maka kini giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah.

Pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjama'ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama'ah selain marah :)

2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat masa.
Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga harapan,bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah pemanasan, sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya.

Bila teh yang disajinya tidak manis, sepedas apapun saya marah, maka itu adalah "harapan ingin disayangi lebih tinggi". Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat, maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups saya telah membunuhnya, membunuh cintanya. Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah... OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini .....

3. Kalau marah jangan bawa bawa keluarga!
Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan ibu dan bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga ia. Dan konsep Quran, seseorang itu tidak menanggung kesalahan pihak lain (QS.53:38-40).
Saya tidak akan terpancing marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi kalau ibu saya diajak serta, jangan coba-coba. Begitupun dia, semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah "awal cinta yang panas ini".

Kata ustadz saya: "Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak." Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usah ditambah tambah dengan memusuhi mertua!

4. Kalau marah jangan di depan anak-anak!
Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat orang tua nya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu 'kan bapak saya.

Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar (based on true story):
Ibu: "Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang main suruh begitu, emang saya ini babu?!!!"
Bapak: "Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada, emang saya ini kuda????!!!!
Anak: "Yaaa ...ibu saya babu, bapak saya kuda .... terus saya ini apa?"

Kita harus berani berkata: "Hentikan pertengkaran!" ketika anak datang, lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata basi hati kita???

5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat!
Pada setiap tahiyyat kita berkata: "Assalaa-mu'alaynaa wa 'alaa'ibaadilahissholiihiin" Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas hamba hambamu yang sholeh.... Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah mendustaiNya, padahal nyawamu ditangan Nya.

OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Ilahi ..... Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu dzuhur, Atau maghrib sebatas isya... Atau habis isya sebatas....???
Nnngg.......Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang tidak bertengkar ... :)

6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema'afkan
Hikmah yang ini saya dapat belakangan, ketika baca di koran (resensi sebuah film). Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah "proses belajar untuk mencintai lebih intens". Ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki.

Ini saja, semoga bermanfa'at. "Dengan ucapan syahadat itu berarti kita menyatakan diri untuk bersedia dibatasi". Selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia pintar.

Author: Unknown
CINTA. Tema yang tak lekang oleh waktu, yang selalu saja disuka oleh siapapun dan kapan pun. Cinta yang membuat dada bergetar karena jantung memompa darah lebih cepat dari biasanya. Cinta yang membuat dunia serasa penuh warna, bahkan tak jelas lagi antara maya dan nyata. Ya…cinta selalu saja asyik untuk dibicarakan.

Cinta tak melulu hubungan antara dua lawan jenis. Cinta tak selalu berisi hasrat dan nafsu semata. Cinta juga bisa meraih posisi tertingginya ketika kita bisa melewati hal berbau materi. Inilah ketika cinta menemui kehakikian dirinya, yaitu cinta kepada Yang Mahatinggi. Cinta Ilahi adalah cinta yang tak terperi dan tak pernah tergantikan.

Ada saatnya kita ditinggal oleh orang yang kita cintai. Ayah, ibu, dan saudara satu hari nanti akan pergi, entah karena pindah tempat tinggal di dunia atau bahkan menuju kea lam akhirat alias meninggal. Sahabat ada kalanya berkhianat. Kekasih pun ada masanya harus beranjak ketika masanya tiba. Sesetia apapun kekasih kita, dia tidaklah abadi. Keberadaan dirinya fana. Gelombang cintanya naik dan turun, labil, tak pernah stabil. Bila semua kondisi sudah begini keadaannya, tinggallah satu cinta yang bertahan untuk selamanya.
...Ada saatnya kita ditinggal oleh orang yang kita cintai. Sesetia apapun kekasih kita, dia tidaklah abadi. Gelombang cintanya naik dan turun....
Cinta ini tak pernah mengenal akhir. Cinta ini begitu tulus, tak pernah mengharap apa pun dari yang dicintai. Cinta yang tak kenal usai dan tak kan pernah meninggalkan kita hingga kelak bumi dan seisinya usai. Sayangnya, seringkali kita menyia-nyiakan cinta putih ini. Ibarat matahari yang selalu bersinar di kala siang, tak jarang kita lupa akan keberadaannya itu sendiri. Keberadaan cinta dari Sang Mahacinta ini sering kita abaikan.

Di atas semua cinta yang ada, cinta yang satu ini berbeda. Di tengah mendurhakanya kita sebagai manusia, Dia, Sang Mahacinta tak pernah murka. Mahakasihnya terus mengalir. Terbukti masih disuplainya oksigen untuk kita hirup, dan nyawa untuk memperpanjang jatah kontrak kita di dunia. Padahal bila mau, bisa saja Ia menghentikan semua jenis penyewaan fana ini. Tapi sungguh, selalu ada celah yang diberi-Nya agar manusia mau bertaubat dan kembali pada-Nya.

Maka, pantas bila untuk cinta yang satu ini kita menghiba agar jangan sampai ia pergi. Apa jadinya diri ini bila cinta hakiki yang memayungi bumi, alam dan seisinya hengkang dan menghentikan semua suplai selama ini? Tak ingin hati membayangkannya. Bergetar dada hanya dengan berpikir selintas tentang kemungkinan Ia ingin sedikit memberi pelajaran pada kita. Na’udzubillah.

Jangankan sampai murka, sedikit pelajaran saja sudah cukup untuk membuat tunggang-langgang seisi dunia. Sebut saja tsunami, wasior, badai Katrina dan banyak lagi pelajaran lain yang diberi-Nya untuk kita. Memang ada peran serta tangan manusia atas semua kerusakan itu, tapi tanpa izin-Nya tentu tak mungkin semua itu terjadi.
....ada saatnya nanti, ketika semua orang yang dicinta telah berlalu dari kehidupan, tinggal kita seorang diri disini....
Sungguh, tak ingin naungan cinta itu pergi meski sedetik. Cinta itulah yang memayungi kehidupan kita di bumi yang panas, gersang dank eras ini. Karena ada saatnya nanti, ketika semua orang yang dicinta telah berlalu dari kehidupan, tinggal kita seorang diri disini. Lantunan ‘Cinta jangan Kau pergi, tinggalkan kusendiri. Cinta jangan Kau lari, apa arti hidup ini tanpa cinta dan kasih sayang-Nya’, meresep hangat di jiwa, meninggalkan jejak yang semakin menambah timbunan rasa itu pada-Nya. Ya…pada-Nya saja, bukan yang lain. [ria fariana/voa-islam.com]

Maunya disuapi? Hm...itu salah satu indikasi kegagalan.
Ukhti Shalihah, mari kita memotivasi diri untuk menjadi muslimah sukses. Hambatannya memang banyak, tapi  kita tak akan menyerah... Nah, salah satu hambatannya adalah... Baca aja deh ;)


Ada satu penghambat sukses yang seperti sifat anak kecil. Memang banyak hal yang bisa kita pelajari dan contoh dari sifat anak kecil untuk keberhasilan kita. Misalnya sifat keinginan belajar dan mencoba. Ini adalah sifat yang bagus dan perlu kita pertahankan. Tetapi ada satu sifat anak kecil yang tidak boleh dimiliki oleh orang dewasa seperti kita. Bahkan, jika anak kecil memiliki sifat ini pun sering membuat jengkel orang tuanya.
Sifat anak kecil ini banyak menjangkiti orang dewasa. Mungkin mereka tidak menyadarinya. Mereka menganggap sifat ini wajar, tetapi yang jelas ini akan menghambat seseorang untuk meraih sukses. Periksalah diri Anda, apakah masih memiliki sifat ini?

Penghambat Sukses Itu adalah Manja

Ah yang bener? Yup. Banyak orang yang manja. Ciri-cirinya ialah mereka yang sering mengatakan sulit. Mereka ingin segalanya mudah atau dimudahkan. Jika mengalami kesulitan mereka menuntut, merengek, atau mengeluh.
Saat menerima nasihat, satu kata yang sering keluar dari mulutnya ialah kata “sulit” atau “susah”. Mereka suka mengatakan hal-hal seperti ini:
“Teorinya sih gampang, tapi aplikasinya susah.”
“Nasihat yang bagus, tapi sulit.”
“Mau sich, tapi sepertinya susah.”
dan sebagainya.
Atau dia mengatakan,
“Saya sebenarnya bisa sukses, seandainya …”
Saat kata “seandainya” keluar dari mulutnya, berarti dia berharap orang lain, lingkungan, peristiwa, atau kondisi selalu mendukung mereka. Mereka tidak mau jika semua itu mempersulit mereka.

Periksalah Apakah Perngahambat Sukses Itu Ada Pada diri Anda?

Jika Anda mau berhasil, Anda perlu melakukan muhasabah. Cobalah periksa kata-kata yang sering keluar dari mulut Anda. Seberapa banyak Anda mengatakan sulit, susah, atau seandainya. Meski itu datang dari hati saja. Jika itu ada, artinya Anda termasuk orang yang manja. Periksa komentar-komentar yang Anda tulis, baik di blog pengembangan diri maupun status di facebook.Kesadaran akan hal ini akan membawa perubahan pada diri Anda.
Mungkin Anda akan berkata bahwa kondisi sulit itu memang benar adanya. Anda mungkin mengatakan bahwa ada alasannya. Anda mungkin berkata itu tidak bohong. Dan berbagai pembenaran lainnya.  Pembenaran-pembenaran ini tidak akan pernah membantu Anda untuk sukses. Alasan Anda mungkin benar, tetapi itu tidak akan mengubah apa pun. Banyak orang yang memiliki alasan tidak bisa bekerja. Alasan itu benar, tetapi apakah alasannya menjadikan dia mendapat gaji? Bagaimana pun alasan dia benar dan valid, jika tidak bekerja, dia tetap tidak mendapatkan gaji.

Memang Sulit, So What Gitu Lho?

Jika Anda mengatakan sesuatu itu sulit. Mungkin benar. Lalu?
Semua orang menghadapi kesulitan. Semua orang menghadapi tantangan. Kesulitan dan tantangan adalah bagian dari hidup. Yang membedakan orang sukses dan tidak adalah bagaimana mereka menyikapi kesulitan tersebut. Orang yang sukses akan belajar dan mencoba mengatasi kesulitan tersebut. Sementara orang yang gagal akan manja, berharap kesulitan tersebut tidak ada. Sayangnya itu tidak mungkin.
Berusahalah, belajarlah, dan cobalah. Kesulitan itu bagian dari hidup.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Alam Nasyrah:5-6)
Seharusnya, orang yang memahami ayat ini tidak akan memiliki penghambat sukses ini.
http://www.motivasi-islami.com/penghambat-sukses-seperti-anak-kecil/

Ditulis oleh Abd Rahman Munawir
Segala puji bagi Allah yang berfirman:“Dan sungguh Kami telah memerintahkan orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah.” (An-Nisa’: 131)
Serta shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada hamba dan rasul-Nya Muhammad yang bersabda:
“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah , serta agar kalian mendengar dan patuh.”
Dan takwa kepada Allah adalah mentaati-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Wa ba’du:
Berikut ini adalah wasiat Islami yang berharga dalam berbagai aspek seperti ibadah, muamalah, akhlak, adab dan yang lainnya dari sendi-sendi kehidupan. Kami persembahkan wasiat ini sebagai peringatan kepada para pemuda muslim yang senantiasa bersemangat mencari apa yang bermanfaat baginya, dan sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan hal ini bermanfaat bagi orang yang membacanya ataupun mendengarkannya. Dan agar memberikan pahala yang besar bagi penyusunnya, penulisnya, yang menyebarkannya ataupun yang mengamalkannya. Cukuplah bagi kita Allah sebaik-baik tempat bergantung.
1. Ikhlaskanlah niat kepada Allah dan hati-hatilah dari riya’ baik dalam perkataan ataupun perbuatan.
2. Ikutilah sunnah Nabi dalam semua perkataan, perbuatan, dan akhlak.
3. Bertaqwalah kepada Allah dan ber’azamlah untuk melaksanakan semua perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.
4. Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nashuha dan perbanyaklah istighfar.
5. Ingatlah bahwa Allah senatiasa mengawasi gerak-gerikmu. Dan ketahuilah bahwa Allah melihatmu, mendengarmu dan mengetahui apa yang terbersit di hatimu.
6. Berimanlah kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir serta qadar yang baik ataupun yang buruk.
7. Janganlah engkau taqlid (mengekor) kepada orang lain dengan buta (tanpa memilih dan memilah mana yang baik dan yang buruk serta mana yang sesuai dengan sunnah/syari’at dan mana yang tidak). Dan janganlah engkau termasuk orang yang tidak punya pendirian.
8. Jadilah engkau sebagai orang pertama dalam mengamalkan kebaikan karena engkau akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikuti/mencontohmu dalam mengamalkannya.
9. Peganglah kitab Riyadlush Shalihin, bacalah olehmu dan bacakan pula kepada keluargamu, demikian juga kitab Zaadul Ma’ad oleh Ibnul Qayyim.
10. Jagalah selalu wudlu’mu dan perbaharuilah. Dan jadilah engkau senantiasa dalam keadaan suci dari hadats dan najis.


Setiap bani Adam tidak pernah tahu kapan dan di bumi mana ia akan meninggal. Maka jika ada orang lain yang masih mempunyai hak atas dirimu atau engkau mempunyai hak atas orang lain, atau engkau ingin meninggalkan wasiat tertentu sehubungan dengan hartamu, maka segeralah menulis wasiat. Sebab memang dianjurkan untuk segera menulis wasiat, sekalipun penulisan wasiat ini tidak akan mendekatkan ajalmu, dan tidak menulis wasiat pun bukan berarti menjauhkan ajal. Yang jelas, manusia tidak tahu kapan ajal menghampirinya.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Tidaklah layak bagi orang muslim yang mempunyai sesuatu yang hendak diwasiatkan selagi masih hidup selama dua malam, melainkan wasiatnya harus sudah ditulis di sisinya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)
Ibnu Umar berkata, “Semenjak kudengar sabda beliau inh, tidak pernah lewat satu malam pun, melainkan aku sudah mempunyai wasiat.”
Hadits ini merupakan dalil pensyariatan segera menulis wasiat, karena dikhawatirkan ajal akan menjemputnya. Berapa banyak orang yang meninggal dunia tatkala masih dalam keadaan sehat atau pun sedang sakit, padahal dia mempunyai harta kekayaan yang melimpah, masih mempunyai hak terhada orang lain dan ada orang lain yang mempunyai hak atas dirinya, padahal dia juga ingin membuat sedikit wasiat sehubungan dengan hartanya, agar segala sesuatu menjadi beres setelah dia meninggal dunia. Tetapi sebelum semua itu terwujud, ajal sudah terlanjur menghampirinya.
Tidak perlu menangguhkan pembuatan wasiat hingga ada tanda-tanda kematian. Hal ini didasarkan kepada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tatkala beliau ditanya seseorang, “Apakah shadaqah yang paling besar pahalanya?”

Beliau menjawab, “Engkau segera mengeluarkan shadaqah selagi dalam keadaan sehat dan kikir, tatkala engkau takut kemiskinan, mengharapkan kekayaan dan engkau meremehkan hingga ruh mendekati tenggorokan. Telah kukatakan begini kepada fulan, kukatakan begini kepada fulan, dan fulan mempunyai apa yang dishadaqahkan.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)
Makna hadits ini, biasanya sifat kikir itu menyertai keadaan sehat. Jika shadaqah dikeluarkan dalam keadaan seperti itu, dengan niat yang baik, maka pahalanya paling besar. Keadaan ini berbeda dengan orang yang mengharapkan kematian dan tidak punya harapan untuk hidup serta tidak mempunyai minat terhadap harta. Pahala shadaqah dalam keadaan seperti ini tidak sebesar pahala keadaan yang pertama.
Namun engkau tidak boleh berwasiat lebih dari sepertiga hartamu, yang didasarkan kepada hadits Sa’id bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, dia pernah ditanya tentang keinginannya untuk berwasiat dengan seluruh hartanya. Beliau menjawab, “Tidak.” Dia bertanya, “Kalau dengan dua pertiganya?” Beliau menjawab, “Tidak.” Kemudian beliau bersabda, “Sepertiga, dan sepertiga itu adalah banyak.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Andaikan manusia berwasiat kurang dari sepertiga atau seperempat hartanya. Sebab Rasulullah pernah bersabda, ‘Sepertiga, dan sepertiga itu adalah banyak.”
Dalam suatu riwayat disebutkan, “Aku ingin agar manusia berwasiat kurang dari sepertiga hingga seperempat hartanya.”
Sumber: Hiburan Bagi Orang Sakit karya Abdullah bin Ali Al-Ju’aitsin (penerjemah: Kathur Suhardi), penerbit: Pustaka Al-Kautsar cet. Kelima, November 1999, hal. 181-183. http://fadhlihsan.wordpress.com/2010/06/18/segeralah-menulis-wasiat/

Menulis dalam Islam merupakan suatu kewajiban setelah perintah untuk membaca(belajar, meneliti dan menelaah). Menulis berarti menyimpan apa yang telah kita baca dalam sebuah media yang bisa diakses oleh siapa saja. Dalam perkembangannya, menulis memiliki peran yang sangat urgen dalam sejarah kejayaan umat Islam beberapa abad silam.
Semua ulama yang menjadi arsitek kejayaan Islam masa lalu adalah para penulis ulung yang telah menghasilkan berbagai buah karya mereka yang sampai saat ini masih menjadi rujukan umat Islam sedunia dalam berbagai disiplin keilmuan. Bahkan, Eropa yang kemajuannya hari ini telah jauh meninggalkan dunia Islam ternyata pernah mengekor pada kemajuan umat Islam masa silam. Dan berbagai kemunduran umat Islam dewasa ini bisa dipastikan karena tradisi membaca dan menulis yang pernah dipopulerkan oleh para ulama masa lalu telah ditinggalkan.
Menulis Sebagai Ibadah
Faktor yang harus dijadikan sebagai pijakan dasar untuk menulis adalah orientasi yang jelas. Menulis harus ada orientasi ke-akhiratan, artinya kegiatan menulis harus bisa bernilai ibadah. Tatkala hal ini telah terpenuhi maka aktifitas menulis akan menjadi suatu kenikmatan tersendiri yang bahkan akan membuat para penulis semakin termotivasi untuk menulis.
Disamping itu, menulis merupakan pekerjaan yang sangat mulia karena ia mengambil peran kenabian dalam hal menyampaikan berbagai kebenaran yang masih tersembunyi kepada khalayak ramai/publik(umat). 4 (Empat) sifat Rasul adalah etika yang mesti dipenuhi oleh seorang penulis. Pertama, ‘Shiddiq’ atau benar. Seorang penulis harus menyampaikan kebenaran dalam isi tulisannya.
Kedua, ‘Tabligh’ atau menyampaikan. Kegiatan menulis adalah bagian dari interpretasi dan transmisi sifat tabligh ini. Disamping itu, kewajiban untuk menyampaikan bagi seorang penulis bisa dimaknai sebagai etika membuat sebuah tulisan, agar sebuah tulisan bernilai ibadah/pahala disisi Allah maka tulisan itu harus mengandung nilai kebenaran dalam penyampaiannya.
Ketiga, ‘Amanah’ atau terpercaya. Tulisan yang disajikan harus memenuhi kualifikasi amanah, hal ini bisa dilakukan jika penulis itu sendiri adalah seorang yang memiliki karakteristik ‘amanah’ atau terpercaya, artinya ia tidak hanya pandai menulis, menasehati atau mengkritik orang lain, tapi juga berupaya agar ia mampu menyelaraskan antara perkataan dan perbuatannya. Merupakan dosa besar jika memerintahkan orang lain mengerjakan suatu kewajiban sementara dia sendiri tidak mengindahkannya.
Keempat, ‘Fathanah’ atau cerdas. Seorang penulis harus memenuhi persyaratan ‘cerdas’ dalam menulis. Hal ini bisa dipahami karena menulis tanpa ilmu akan menyebabkan berkurangnya unsur-unsur kebenaran yang tersampaikan, atau bahkan jauh sama sekali dari kebenaran, dan bisa diprediksi pada akhirnya syaithan-lah yang akan menjadi gurunya. Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Menulis tanpa membaca berarti kita menyampaikan sesuatu tanpa dasar yang valid dan otentik yang pada satu waktu tertentu akan membuat kita menyampaikan suatu kekeliruan yang fatal. Sebaliknya, membaca tanpa menulis berarti membiarkan apa yang ada di dalam otak kita tak tereksplorasi dengan sempurna.

Saudariku, mari mulai menulis. Menulis tentang apa saja. Tahukah kalian, menulis itu banyak manfaatnya. Salah satunya sebagai terapi bagi diri. kalian yang sudah biasa online bisa pakai jasa blog yang free untuk menuangkan ide atau mencurahkan perasaan. share pada sesama blogger atau pun mendokumentasikan pengalaman, artikel penting dan catatan2 lainnya. Ditambah, jika saling share link. insyaallah kontak di hati semakin dalam ^^ 


hm...seru, kan? Yuk, baca artikel berikut

Menulis merupakan salah satu kegiatan yang paling spektakuler! Mengapa begitu? Banyak manfaat menulis yang bisa kita peroleh, termasuk sebagai terapi diri untuk meraih kesuksesan. Enggak percaya? Coba baca ulasan saya berikut ini.

Terapi! Satu kata yang identik dengan penyembuhan diri dan proses pernormalan kembali suatu kinerja tubuh sebagaimana mestinya, baik yang bersifat fisik maupun psikis. Terapi identik dilakukan oleh ahli klinis, seperti dokter, psikiater, maupun psikolog. Terapi digunakan sebagai langkah untuk mengaktifkan kembali kinerja tubuh yang dianggap mempunyai masalah. Jadi, terapi dimaksudkan agar mempercepat proses penyembuhan yang dilakukan oleh para ahli klinis tersebut.

Nah, kita pastinya mempunyai permasalahan dalam hidup, sedikit atau banyak. Masalah merupakan hal wajar yang dialami oleh setiap manusia. Jarang sekali ada orang yang tidak pernah mengalami masalah. Masalah akan membantu kita dalam mengembangkan diri dan membuat kita semakin survive (kemampuan bertahan hidup). Tidak ada hal berbeda yang dialami ketika kita menghadapi masalah. Perbedaannya terletak pada cara kita dalam menyelesaikan masalahnya. Banyak cara yang bisa digunakan untuk menyelesaikan sebuah masalah, salah satunya dengan menulis diari.

Hal yang perlu kita sadari adalah, tidak setiap hal yang bermasalah saja yang memerlukan terapi. Terapi dapat dilakukan setiap saat agar kita dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan, dan juga sebagai hal yang berguna untuk merefleksikan setiap hal yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.

Orang kadang tidak bisa merasakan ada masalah yang muncul sampai dengan adanya hal destruktif (merusak), yang membuat kehidupan seseorang itu tidak stabil. Diperlukan sebuah kepekaan atau kesadaran diri, agar kita dapat merasakan hal-hal yang kiranya membuat kita tidak nyaman, serta membuat sebuah masalah baru yang sering kali tidak kita sadari.

Menulis diari ini merupakan kegiatan yang sangat populer bagi sebagian orang, mulai dari anak kecil sampai orang dewasa. Dan, yang membuat hal ini menarik, diari merupakan hal yang tidak asing dalam kehidupan sehari-hari. Sedari kecil kita dibiasakan oleh orang tua kita untuk menulis diari. Hal yang ditulis biasanya merupakan kejadian sehari-hari yang berkesan bagi kita.


Berikut ini artikel yang menarik untuk kita simak. Menarik pula untuk diterapkan, karena bahagia adalah jalan menuju sehat tanpa obat. Mari muslimah, jadilah pribadi yang bahagia dan membahagiakan orang2 yang kita cintai :)


Jakarta, Setiap orang merasakan cinta sejak terlahir di dunia dan banyak kebahagiaan yang dirasakan karena cinta. Tapi ternyata tak hanya itu, cinta juga bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Apa saja manfaatnya?


Beberapa studi menunjukkan bahwa orang yang menikah dan memiliki banyak cinta cenderung hidup lebih sehat ketimbang orang yang melajang. Cinta membuat orang lebih sehat secara mental, fisik, sosial dan spiritual.


Dilansir dari LifeMojo, Jumat (9/7/2010), berikut adalah beberapa manfaat cinta untuk kesehatan:


1. Mengurangi stres
Cinta bisa menjadi cara yang sangat efektif untuk mengurangi tingkat stres. Ketika dalam suatu hubungan intim, kelenjar adrenal menghasilkan dehydroepiandrosterone (DHEA), yaitu suatu hormon yang bertindak sebagai perusak stres. Selain itu, dukungan dari orang tercinta juga akan membantu Anda mengatasi stres.
2. Meningkatkan kesehatan mental
Efek menenangkan dari DHEA pada tubuh dan pikiran meningkatkan pertumbuhan saraf. Hal ini juga bermanfaat dalam pemulihan pertumbuhan saraf yang dihasilkan dalam mengingat memori.
3. Efek anti kanker
Menurut sebuah penelitian di University of Iowa menemukan bahwa pasien kanker ovarium yang memiliki hubungan yang kuat dan memuaskan dengan pasangannya akan mengembangkan sel-sel darah putih yang dapat membunuh sel kanker.
4. Mengurangi sakit
Cinta dapat mengaktifkan bagian dari otak yang mengontrol rasa sakit. Semakin bahagia pernikahan, semakin besar efeknya. Mengurangi tingkat stres juga mengurangi rasa sakit, terutama jika Anda menderita sakit kepala kronis.
5. Melancarkan sirkulasi darah
Ketika bertemu dengan seseorang yang dicintai, otak mengirimkan impuls ke jantung sehingga berdetak lebih cepat dari biasanya. Hal ini menyebabkan peningkatan aliran darah ke tubuh, meningkatkan sirkulasi dan kerja semua organ menjadi lebih efisien.
6. Penyembuhan lebih cepat
Peneliti menemukan bahwa luka sembuh lebih cepat pada orang yang berada dalam hubungan cinta. Menurut penelitian itu, luka melepuh sembuh hampir dua kali lebih cepat pada pasangan yang bahagia dan tenang, dibandingkan dengan hubungan bermusuhan atau tertekan. Peneliti juga menemukan bahwa orang yang sedang jatuh cinta cenderung terhindar dari sakit dari flu dan demam.
7. Mengurangi risiko penyakit jantung
Mengekspresikan perasaan cinta dapat mengurangi kadar kolesterol. Human Communication Research menemukan bahwa orang yang mengungkapkan perasaan kasih sayangnya kepada teman, kerabat atau pasangan memiliki kadar kolesterol yang lebih rendah. Ini berarti menurunkan kemungkinan serangan jantung dan penyakit kardiovaskuler lainnya.
8. Tekanan darah baik
Menurut sebuah studi di Annals of Behavioral Medicine, orang yang menikah dan bahagia memiliki tekanan darah terbaik dibanding dengan orang yang melajang atau menikah tapi tak bahagia.


http://www.detikhealth.com/read/2010/07/09/081516/1395943/766/8-efek-cinta-yang-membuat-orang-lebih-sehat

Artikel yang satu ini perlu waktu khusus untuk menyelaminya. Menerapkan dengan optimisme karena kita semua berhak untuk bahagia :)

Oleh : Ubaydillah, AN

Jakarta, 11 Agustus 2010





Apa saja yang bisa membuat kita bahagia? Jawabannya pasti tak terhitung, se-tak-terhitung alasan dan kondisi kita. Cuma, secara umum, kita mungkin sulit menolak bila dikatakan bahwa faktor yang bisa membuat seseorang bahagia itu bisa dikelompokkan menjadi tiga:

Pertama, personal setting atau bagaimana kita membentuk diri, dalam arti cara berpikir yang kita anut, sikap hidup yang kita pilih, nilai-nilai yang kita jadikan acuan, respon yang kita ambil, dan seterusnya.Contohpersonal setting yang sudah kita bahas di sini adalah sikap menerima (accept / “nrimo”) yang bukan pasrah menyerah. Menerima atau menolak itu sikap yang kita pilih. Tidak ada orang atau keadaan yang menyuruh kita antara harus menerima atau menolak. Menerima bisa membuat kita lebih cepat bahagia dibanding dengan menolak.

Kedua, faktor eksternal yang mendukung bagi kebutuhan kita untuk bahagia. Bentuknya bisa materi atau non-materi (nilai). Misalnya, adanya hubungan yang harmonis, uang / materi yang mencukupi kebutuhan, lingkungan kerja yang OK, dan semisalnya.
Ketiga, faktor X yang mungkin berupa akibat atau hasil dari apa yang kita usahakan dan respon yang kita terima dari kekuatan di luar kita sehingga membuat kita selamat dari hal-hal yang membuat kita tidak bahagia. 

Untuk orang yang beragama, kekuatan dari luar itu diperintahkan untuk  meyakininya sebagai tangan “Tuhan”, bukan kejadian yang kebetulan. Misalnya, ternyata kita sembuh dari sakit setelah berusaha berobat atau selamat dari kecelakaan,dan lain-lain.Seperti kita lihat, sepertinya hubungan antara sembuh dan berobat itu kausatif, tetapi prakteknya tidak begitu. Banyak kok orang yang sudah berobat kemana-mana, tapi belum kunjung sembuh. Karena itu, kesembuhan perlu diyakini sebagai pertolongan Tuhan dan usaha kita. Bila kita masih menemukan penjelasan lain yang bisa melengkapi paparan di sini, tentu akan lebih mantap lagi supaya perspektif kita tentang kebahagiaan semakin sederhana.

Mana yang Paling Banyak Berperan?

Nah, dari ketiga hal di atas, kira-kira mana yang paling banyak berperan? Kalau mencermati praktek hidup, yang paling banyak dan paling sering berperan tentunya adalah personal setting.  Angka penelitiannya menyebut dari 60% hingga 80%, berdasarkan keadaan hidup yang normal. Kita mungkin bisa saja mengatakan bahwa faktor kebahagaiaan itu tidak dapat diangka-angka-kan. Tapi, untuk soal betapa vitalnya personal setting itu bagi kebahagiaan, ini memang banyak bukti dan penjelasannya.

Katakanlah kita sudah mendapatkan faktor eksternal yang mendukung kebahagiaan kita, misanya pekerjaan, lingkungan atau materi. Walaupun semua itu nyata adanya pada kita, tetapi jika personal setting kita kurang mendukung, apa bisa kita merasakan kebahagiaan?  Jawabannya mungkin sulit. Kesulitan untuk bahagia itu mungkin akan bersifat lama. Karena itu ada ungkapan yang  menyatakan bahwa kebahagiaan itu bukan tergantung pada apa yang kita miliki, melainkan pada kesyukuran kita pada apa yang sudah kita miliki.

Tidak jarang kita menemukan kondisi yang tak mendukung
untuk bahagia. Jadi, mari berusaha bahagia.


Sekarang mari kita balik simulasinya. Katakanlah kita berada dalam kondisi yang secara faktor eksternal kurang mendukung untuk bahagia. Misalnya, sedang nganggur, tidak punya uang, hubungan sedang meruncing, atau apalah contohnya yang lebih menyedihkan lagi. Jika menggunakan kemanusiawian kita, memang kita hampir dipastikan tidak bahagia dengan keadaan seperti itu, walaupun sudah berusaha menciptakan personal setting yang sebijak,  sepositif, dan se-powerful mungkin.

Hanya saja, jika personal setting yang demikian itu sanggup kita jamin konsistensinya, maka rasa tidak bahagia yang kita alami itu hanya bersifat sementara. Jika konsistensi itu sanggup kita wujudkan dalam bentuk agenda perubahan yang nyata, rasa tidak bahagia akan menjadi rasa bahagia. Ini sudah hukum alam. 

Di samping itu, memiliki personal setting yang mendukung kebahagiaan, entah itu namanya pura-pura atau atau ke-wisdom-an, pada saat kita menghadapi keadaan yang tidak mendukung kebahagiaan, akan membuat kita tidak sampai larut ke dalam ketidakbahagiaan yang sifatnya uncontrollable. Karena itu, kearifan leluhur kita mengajarkan perspektif tersendiri dalam melihat kemalangan, yaitu dengan menghadirkan kata “masih untung . . .. “. Meski usaha kita lagi tekor, kita disuruh berpikir masih untung sehat. Coba kalau sudah tekor plus sakit?

Personal Setting dan Kematangan Mental

Personal setting yang sangat mendukung kebahagiaan adalah berbagai pemikiran, sikap, dan tindakan yang mencerminkan atau merepresentasikan kematangan mental (mental maturity).Tentu, dalam prakteknya, istilah kematangan mental itu mengandung skala, dari yang rendah, menengah, atau atas. Untuk melihat dimana sebetulnya skala kematangan kita, ini bisa kita lihat dari ciri-ciri umumnya: 



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...