Tampilkan postingan dengan label pasutri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pasutri. Tampilkan semua postingan
Bertengkar adalah fenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga, kalau ada seseorang berkata: "Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya!" Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri atau ia tengah berdusta.

Yang jelas kita perlu menikmati sa'at-sa'at bertengkar itu, sebagaimana lebih menikmati lagi sa'at sa'at tidak bertengkar. Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi. Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa mereguk hikmah,betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental,lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi.

Salah satu diantaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala kita bertengkar, dari beberapa perbincangan hingga waktu yang mematangkannya, tibalah kami pada sebuah Memorandum of Understanding, bahwa kalau pun harus bertengkar, maka :

1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama'ah.
Cukup seorang saja yang marah marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjama'ah, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika ia marah dan saya mau menyela, segera ia berkata "STOP" ini giliran saya! Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam hati : "Kamu makin cantik kalau marah, makin energik..." Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi... "Duh kekasih... bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu ...."

Demikian juga kalau pas kena giliran saya "yang olah raga otot muka," saya menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya:) maka kini giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah.

Pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjama'ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama'ah selain marah :)

2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat masa.
Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga harapan,bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah pemanasan, sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya.

Bila teh yang disajinya tidak manis, sepedas apapun saya marah, maka itu adalah "harapan ingin disayangi lebih tinggi". Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat, maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups saya telah membunuhnya, membunuh cintanya. Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah... OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini .....

3. Kalau marah jangan bawa bawa keluarga!
Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan ibu dan bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga ia. Dan konsep Quran, seseorang itu tidak menanggung kesalahan pihak lain (QS.53:38-40).
Saya tidak akan terpancing marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi kalau ibu saya diajak serta, jangan coba-coba. Begitupun dia, semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah "awal cinta yang panas ini".

Kata ustadz saya: "Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak." Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usah ditambah tambah dengan memusuhi mertua!

4. Kalau marah jangan di depan anak-anak!
Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat orang tua nya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu 'kan bapak saya.

Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar (based on true story):
Ibu: "Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang main suruh begitu, emang saya ini babu?!!!"
Bapak: "Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada, emang saya ini kuda????!!!!
Anak: "Yaaa ...ibu saya babu, bapak saya kuda .... terus saya ini apa?"

Kita harus berani berkata: "Hentikan pertengkaran!" ketika anak datang, lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata basi hati kita???

5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat!
Pada setiap tahiyyat kita berkata: "Assalaa-mu'alaynaa wa 'alaa'ibaadilahissholiihiin" Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas hamba hambamu yang sholeh.... Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah mendustaiNya, padahal nyawamu ditangan Nya.

OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Ilahi ..... Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu dzuhur, Atau maghrib sebatas isya... Atau habis isya sebatas....???
Nnngg.......Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang tidak bertengkar ... :)

6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema'afkan
Hikmah yang ini saya dapat belakangan, ketika baca di koran (resensi sebuah film). Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah "proses belajar untuk mencintai lebih intens". Ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki.

Ini saja, semoga bermanfa'at. "Dengan ucapan syahadat itu berarti kita menyatakan diri untuk bersedia dibatasi". Selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia pintar.

Author: Unknown
SMS dari isterinya pagi itu membuatnya gundah, kecewa dan marah. Meskipun singkat, tetapi kekuatan kalimatnya melahirkan makna menggunung. Isinya menusuk ke jantung dan pilihan katanya tajam. Hatinya membatin. Sebuah ”sarapan pagi” yang lain dari biasanya.

Tak ada teh hangat atau susu dan roti. Tak ada salam dan kecupan sayang sebelum berangkat. Dan tak ada senyuman mengiringi keberangkatan kerjanya. Sarapan pagi yang tanpa gizi fikirnya.

Bulan-bulan terakhir di akhir tahun 2009 dirasakannya sebagai masa yang penuh konflik batin. Intensitas beragamanya diakui hampir menyentuh titik terendah. Dalam sebulan, hampir ada satu atau dua shalat wajib yang bolong. Tahajjudnya menjadi begitu langka, kecuali Dhuha yang tetap rutin didirikan. Disadarinya belakangan bahwa ia begitu lalai merajut tali kasih dengan Rabbnya. Batinnya merasakan kehampaan dan hilang kelezatan dalam beribadah.

Kebugaran fisiknya juga sering kacau. Dalam sebulan satu atau dua kali harus ke dokter. Begitu juga dengan buah hatinya. Hingga dirasakan ongkos berobat menjadi tidak karuan dan di luar perkiraan.

Ada sesuatu yang hilang dari harapannya. Harapan yang dibangun sejak sebelum berumah tangga. Ada banyak sisi-sisi kelemahan dirinya yang belum dapat terisi oleh kehadiran isteri dan anak-anaknya. Sehingga ia sering bertanya, bagaimana memulai membangun harapan itu lagi?

Meskipun begitu, selalu saja hatinya menyalahkan dirinya sendiri. Bukan isteri dan bukan pula anak-anaknya. Sebuah kesadaran yang menurutnya lebih bijak, bahwa menyalahkan orang lain hanya akan semakin membuat mata tertutup atas kelemahan diri sendiri.

Tapi SMS itu seperti petir yang menyambar daun telinganya. Kesadarannya dibangunkan terlalu keras sehingga telinganya pekak dan hatinya terperanjat. Sejujurnya diakui bahwa pesan itu tidak seluruhnya salah. Tetapi, hatinya membatin apakah wanita yang dinikahi sepuluh tahun lalu itu sudah begitu sempurnanya mendampingi dirinya? Ada titik bening di sudut matanya mengulangi SMS itu dibaca.

Mulailah hatinya terpancing. Diambilnya pensil dan kertas kosong. Dituangkannya kejelekkan isterinya selama ini. Dari yang terkecil dan sepele hingga yang menurutnya keterlaluan. Sejak mula dia hidup bersama sampai hari saat SMS itu diterimanya. Ia ingin membalas dengan sesuatu yang setimpal, bahwa ia tidak sendirian. Bahwa ia juga pantas menyalahkan hal buruk isterinya.

Tapi sisi lain dari hatinya bicara. Apa pantas menimpali kekacauan dengan kekacauan?

Ia menangis bisu dalam do’a batinnya, ” Ya Rabb, ... ampun sejadi-jadinya atas nama kasih-Mu. Beri hamba kekuatan untuk menelan pahitnya cobaan ini. Dampingi hamba dalam kesulitan menginjak duri yang berserak di atas jalan rumah tanggaku. Antarkan hamba ke pintu tujuan perkawinan seperti syariatmu....”.

Marah, kecewa dan putus asanya mencair. Kisah Umar bin Khattab yang pernah dibacanya memadamkan “api” yang menggelegak dalam hatinya. Bahkan sesungguhnya ia malu tanpa sisa andaikan ia dapat bertemu muka dengan sahabat Rasulullsh yang terkenal sangat tegas itu.

Dikisahkan bahwa seorang dari pedalaman Arab datang ingin menghadap Umar bin Khattab. Orang itu berharap Umar akan memberikan nasehat dan jalan keluar atas persoalan rumah tangga yang tengah dihadapinya. Ia membawa segudang pengaduan atas perilaku isterinya.

Berharap pula Umar sebagai khalifah mau memberi pelajaran kepada isterinya yang dinilainya sudah sangat keterlaluan. Sebagai suami ia merasa sudah tidak punya harga diri. Selalu saja menjadi objek omelan dan tajamnya lidah sang isteri.

Hingga sampai di muka pintu rumah khalifah Umar, pria itu ragu berdiri di depan pintu menunggu Umar keluar sebab ia mendengar istri Umar bersuara keras pada suaminya dan membantahnya sedangkan Umar diam tidak membalas ucapan istrinya.

Pria itu lalu berbalik hendak pergi, sambil berkata, "Jika begini keadaan Umar dengan sifat keras dan tegasnya dan ia seorang amirul mukminin, maka bagaimana dengan keadaanku ?".

Umar keluar dan ia melihat orang itu hendak berbalik dan pergi dari pintu rumahnya seraya memanggil pria itu dan berkata, "Apa keperluanmu wahai pria?"

"Wahai Amirul Mukminin, semula aku datang hendak mengadukan kejelekan akhlak istriku dan sikapnya yang membantahku. Lalu aku mendengar istrimu berbuat demikian, maka aku pun kembali sambil berkata, "Jika demikian keadaan amirul mukminin bersama istrinya, maka bagaimana dengan keadaanku ?"

Mendengar keluhan pria itu atas dirinya dan apa yang dialaminya sendiri, Umar berkata, "Wahai saudaraku. Sesungguhnya aku bersabar atas sikapnya itu karena hak-haknya padaku.

Dia yang memasakkan makananku, yang membuatkan rotiku, yang mencucikan pakaianku, yang menyusui anak-anaku dan hatiku tenang dengannya dari perkara yang haram. Karena itu aku bersabar atas sikapnya".

Jawaban Umar membuat pria tercenung kemudian berkata : "Wahai Amirul Mukminin, demikian pula istriku".

”Karena itu, Bersabarlah atas sikapnya wahai saudaraku ..."

Gagahnya Umar tiada yang menyangkal, demikian pula ketegasannya dalam bersikap. Tapi kisah sikap Umar terhadap wanita isteri yang dibacanya membuatnya seperti laki-laki yang belum mengenal pasangan hidup bahkan dirinya sendiri.

Kini malunya bertambah besar. Bahkan mungkin ia tak punya ”muka” lagi apabila SMS itu diforward kepada sahabat Nabi itu. Kesadarannya kembali ke titik normal. Bahkan SMS itu bukan lagi dianggapnya sebagai duri dalam kasih sayang dalam rumah tangganya.

Hatinya girang dan berujar ” Terima kasih wahai Umar”.

Wahai suami yang penyayang..


Ketahuilah, tinggalnya seorang istri di rumah tidak memberikan kesempatan untuk beristirahat dan menikmati ketenangan, karena di sisinya ada anak-anak yang harus diasuhnya dan dididiknya agar mereka tumbuh dengan baik. Semua itu membutuhkan kesungguhan diri, hati dan jasmani darinya yang lebih besar dari kesungguhan yang harus anda curahkan di kantormu atau di ladang kerjamu. Andai anda bergantian tugas dengannya, anda tidak akan mampu mengembannya walau hanya sesaat di siang hari.

http://www.eramuslim.com/oase-iman/sms-dari-umar-bin-khattab.htm
Selain yang harus dihindari, Muslimah Care juga membagi artikel pada saudari semua tentang cara yang tak boleh dilupakan ketika kita mneginginkan mendidik anak yang shalih. semoga catatan ini dapat diterapkan dan bermanfaat bagi semua :)

Oleh: Sumedi

Segala hal yang berkaitan dengan pendidikan anak, selalu menarik perhatian setiap orang tua. Tidak heran bila buku-buku tentang pendidikan anak selalu menjadi “buruan” para ayah dan ibu sepanjang waktu. Sebuah ekspresi akan besarnya tanggungjawab terhadap tumbuh kembangnya anak-anak dalam fitrahnya yang suci.

Terlalu banyak argumen yang dapat disajikan, mengapa orang tua harus bersemangat dalam mendidik anak. Baik alasan-alasan yang bersifat diniyah maupun duniawiyah. Dalam dimensi keduniaan, anak-anak yang terdidik dengan pendidikan rabbani akan menunjukkan baktinya kepada kedua orang tua; memberikan perhatian penuh di segala susah dan senangnya; Mengangkat derajat kemuliaan dengan karya-karya terbaik di mata manusia; dan merawat dengan penuh kasih sayang di kala tua.

Sementara dalam dimensi akhirat, cukuplah kiranya satu hadits Rasulullah SAW sebagai spirit: “Jika anak Adam meninggal dunia, terputuslah segala amalnya kecuali tiga perkara; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya” (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ahmad).

Keshalihan dan kedekatan kepada Allah adalah bekal utama dalam menjalankan peran mulia ini. Di samping itu, bekal lain yang harus dimiliki oleh setiap orang tua dalam mendidik anak-anak mereka adalah ilmu. Ilmu tentang urgensi, objek (hal-hal yang harus diutamakan), metode, hingga sarana-sarananya.

….Ilmu, keshalihan dan kedekatan kepada Allah adalah bekal utama yang harus dimiliki oleh setiap orang tua dalam mendidik anak-anak mereka….

Kedua bekal utama di atas, insya Allah telah cukup memadai untuk membentuk anak-anak shalih dengan ijin-Nya. Namun, agar usaha orang tua lebih optimal, ada beberapa hal yang tidak boleh dilupakan ketika mendidik anak-anak mereka:

mempercayai menjadi bekal bagi merkea untuk tetap "berjaan"

1. Kerjasama

Dalam konteks keluarga, kita mengenal istilah keluarga inti dan tambahan. Keluarga inti meliputi; ayah, ibu dan anak-anak. Sedangkan keluarga tambahan adalah semua orang yang tinggal seatap dengan keluarga inti seperti; adik, kakak, keponakan, pembantu dan lain-lain. Sekaitan dengan usaha mendidik anak, semua pihak baik yang termasuk keluarga inti maupun tambahan harus bekerjasama dengan baik. Memiliki persepsi dan sikap yang sama tentang apa yang semestinya mereka perbuat dan tidak di depan anak-anak. Jangan sampai ada seorang pun yang menjadi model negatif, dari sisi perilaku dan ucapannya.

Kondisi ini lebih mirip pada pembentukan bi’ah shalihah (lingkungan yang kondusif) bagi tumbuh suburnya potensi-potensi kebaikan pada diri anak-anak. Sehingga fungsi rumah sebagai masjid akan tampak lebih dominan di mata anak-anak, dengan hadirnya ta’awun (saling bekerjasama) dalam hal kebaikan di antara orang-orang yang bernaung di dalamnya.

2. Lemah lembut

Kalau boleh dianalogikan, anak ibarat benih yang baru mengeluarkan tunasnya. Meski butuh air untuk pertumbuhan, siapa pun tidak boleh menyiramkan air dengan jumlah yang berlebihan. Berlebihan dalam menyiramkan air justru akan menyebabkan tunas itu patah dan tidak dapat tumbuh dengan sempurna. Demikian halnya dengan anak. Kendati sangat butuh arahan, nasihat dan didikan, tidak selayaknya pendidikan anak dilakukan dengan cara-cara kasar. Alih-alih meninggalkan kesan, sebaliknya akan mengakibatkan anak-anak terganggu secara kejiwaan.

Rasul SAW bersabda; “Sesungguhnya Allah Maha lembut, menyukai orang yang lembut. Dan sesungguhnya Allah memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikannya kepada sikap kasar.” (HR. Muslim).

….Kendati sangat butuh arahan dan didikan, tidak selayaknya pendidikan anak dilakukan dengan cara-cara kasar, karena akan mengakibatkan anak-anak terganggu secara kejiwaan….

3. Bertahap

Allah menyertakan setiap syariat yang diturunkan-Nya dengan minhaj (metode implementasi)-nya masing-masing. Mengikuti kesempurnaan Islam, Allah pun menjadikan metode implementasinya sebagai minhaj yang paling sempurna. Di antara minhaj itu adalah; marhaliyah (bertahap). untuk itu, setiap waktu dalam mendidik anak yang merupakan bagian dari mengajarkan Islam, syariat menuntut orang tua untuk melakukannya secara bertahap.

Hal ini berarti, secara otomatis mengharuskan orang tua mampu membuat skala prioritas, tentang mana yang harus didahulukan dan apa yang mesti diakhirkan. Memulai dari hal-hal yang mudah, dari diri dan lingkungan terdekatnya, serta disesuaikan dengan kemampuan berpikir atau mencerna setiap peristiwa dan kata-kata. Dengan bertahap, orang tua akan lebih mudah melakukan evaluasi. Dengan bertahap, anak-anak akan mudah mengambil setiap pelajaran yang diberi.



Kali ini kita akan membahas mengenai kesalahan yang seringkali tidak kita sadari ketika mendidik buah hati. Bismillah, semoga setelah membaca artikel ini, kita semua bisa menghindari kesalahan tersebut dan menjadikan anak-anak kita sebagai pribadi yang utuh.

Sebagian orang tua ada yang menganggap pendidikan sebagai masalah yang sepele, mereka menelantarkan pendidikan anaknya dengan tanpa ada beban sedikit pun. Mereka beranggapan bahwa tugasnya hanyalah memenuhi kebutuhan makan, minum, pakaian dan tempat tinggal. Mereka lupa firman Allah subhanahu wata’ala, artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (at-Tahrim:6). Ali bin Abi Thalibradhiyallahu ‘anhu berkata mengomentari ayat ini, ” Ajarilah mereka dan didiklah mereka.”
Demikian juga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barang siapa yang melalaikan pendidikan anaknya dengan hal-hal yang bermanfaat serta meninggalkannya secara sia-sia, maka berarti telah berbuat buruk kepada anak seburuk-buruknya. Kebanyakan anak menjadi rusak adalah disebabkan orang tuanya, karena tidak adanya perhatian kepada mereka, serta tidak diajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban agama dan sunah-sunnahnya.”
Terlalu Ketat
Ini kebalikan dari kekeliruan di atas, seakan-akan orang tua adalah seorang pengawas yang selalu memonitor seluruh kegiatan anak tanpa mempedulikan perkembangan kepribadian si anak. Seluruh pendapat orang tua harus diterima dan si anak tidak boleh memiliki pilihan lain kecuali mengikuti dan taat secara membabi buta.
Kesalahan dalam hal ini menyebabkan dampak negatif sebagai berikut:
·         Lemahnya kepribadian anak dan hilangnya rasa percaya diri.
·       -  Anak akan menderita.
·      -   Melemahnya daya kreativitas anak.
·      -   Penyimpangan setelah anak tumbuh besar, yaitu dia merasa terbebas dari belenggu yang -selama ini mengikatnya sehingga dia akan enggan menerima berbagai ketentuan dan tekanan meskipun ketentuan tersebut adalah berupa kebaikan dan kebenaran.
·         - Menyebabkan anak menderita sakit, baik fisik atau psikologis.
Metode pendidikan yang baik menekankan supaya anak diberikan kebebasan dalam hal yang berkaitan dengan urusan khusus mereka, baik dalam mengambil keputusan, mengemukakan keinginan atau pendapat dan tanggung jawab. Tetapi dengan catatan bahwa semua itu harus dalam koridor perilaku yang baik dan adab yang mulia yang senantiasa harus ditanamkan dalam jiwa si anak.

Tidak Konsisten
Orang tua adalah orang yang memberikan pengaruh pertama kali kepada anak, dan banyak menanamkan sifat atau kebiasaan kepada mereka. Jika orang tua berakhlak dengan akhlak dan perilaku yang baik, maka anak akan terpengaruh dengan sifat-sifat positif tersebut. Namun jika ada pertentangan, di satu sisi orang tua menyuruh sesuatu namun ia melakukan yang sebaliknya (inkonsisten), maka itu akan memberikan dampak negatif bagi anak.
Di antara sikap tidak konsisten yang dimaksudkan misalnya orang tua menyuruh jujur namun dia sendiri sering bohong, menyuruh menepati janji namun dia sering ingkar janji, menyuruh shalat tetapi dia sendiri meninggalkannya, atau melarang dari merokok tetapi dia justru merokok dan lain sebagainya.




Keluarga Sakinah: Tips Agar Disayang Mertua

Pernikahan tidak hanya melibatkan relasi suami dan istri an sich. Lebih dari itu, pernikahan juga melibatkan dua keluarga besar. Bagi sebagian pasangan, hubungan antara menantu dengan mertua sering kali menjadi pemicu timbulnya konflik kehidupan rumah tangga. Dan biasanya, pertikaian itu terjadi antara pihak istri dan mertuanya.
Dengan demikian, diperlukan berbagai tindakan teknis yang membantu Anda untuk menjalani relasi harmonis dengan orangtua suami alias mertua. Dalam bukunya berjudul “Kaifa Tushbihina Zaujatan Rumansiyyah,” Wafaa‘ Muhammad menuliskan beberapa pesan yang bisa membuat keluarga suami sayang kepada Anda. Di antaranya:

1. Hormatilah orangtua suami, bicaralah dengan lembut dan penuh cinta. Perlakukanlah orangtua suami Anda seperti ibu dan ayah Anda sendiri. Pun demikian, perlakukanlah saudara-saudara suami selayaknya saudara-saudara Anda.

2. Ciumlah pipi ayah dan ibu suami, setiap kali Anda ‘sungkem’ kepada mereka berdua. Kemudian tanyakan dengan antusias keadaan mereka.

3. Biasakanlah untuk memberi hadiah kepada mereka berdua. Bawalah bingkisan makanan atau bingkisan lainnya setiap kali Anda datang ke rumah mertua Anda. Ini mengingat, hadiah memiliki dampak yang hebat secara psikologis. Tak heran jika Rasulullah SAW bersabda, “Saling memberi hadiahlah, pastinya kalian saling mencintai.”

4. Ketika sedang berkumpul bersama, berilah tempat terbaik untuk mertua Anda, tersenyumlah dan buatlah mereka merasakan senyaman mungkin.

5. Berikanlah motivasi suami Anda untuk berbakti, memuliakan, dan membahagiakan orangtuanya. Dan ingatkan hak-hak ibunya atas dirinya.



terkadang merebut hati mertua menjadi perjuangan teramat sukar untuk dilalui. bismillah...jika kita meminta pada Allah dan mencoba berkomunikasi dari hati ke hati insyaallah SAMARA menjadi nyata.


Ku tulis ini untuk Ibunda dari seorang partner dakwahku..

Bunda* maafkan aku.................
(Mungkin memang tak layak bagiku merebutnya dari sisimu.....)

Bunda tersayang...
Bunda yang melahirkan mujahidah yang begitu cerdas dan sholehah....
Jika “milikmu” seolah terenggut dari “pelukanmu”....
Percayalah Bunda, bahwa itu semua adalah karena dalam rangka ibadah padaNya

Bunda yang sangat kuhormati....
“Mutiaramu” itu memang sangat berharga, bahkan tidak hanya bagimu, tapi juga bagi dakwah ini...

Bunda yang kucintai....
Dakwah ini butuh “jundimu”, jundi yang kuat fikr, kuat jiwa, dan segalanya...
Mutiaramu mempunyai sebagian dari yang dakwah butuhkan...
Tidak karena apa-apa Bunda...
Tapi Bunda, akan sayang sekali jika potensi itu mati tidak menjadi tidak berarti...

Tapi Bunda,...
Jika karena amanah itu harus segera tunai...
Maka tentulah ikhlas hati untuk melepasnya
Namun izinkan “dia” kembali menjadi “mutiara” bagi kami, setelah amanah itu terpenuhi....

Bunda yang kuharap dukunganmu...
Mohon maaf jika cara-cara kami tidak berkenan di hatimu
Engkau lebih berpengalaman dariku, karenanya...
Bimbinglah kami menjadi lebih benar dan ahsan dalam berjalan......

Bunda...
Kutulis ini, karena aku sangat sedih jika Bunda tak meredhoinya, tak meredhoi “mutiaramu” atas segala aktivitasnya.

Bunda,....
Sungguh, semua ini kutulis karena kita semua berharap syurgaNya

Bunda..., yang ingin sekali kubisa dekat denganmu...
Akoe takkan segan-segan berbakti padamu layaknya orangtuaku,
Karena bagiku, siapapun “Bunda” bagi mujahid/dah dakwah ini dan begitu mendukung dengan sepenuh hati, maka engkau adalah Bundaku juga...

Bunda.....
Senyum tulusmu,
Sapa riangmu,
Adalah impian yang selalu kuinginkan terwujudkan untukku...

Bunda yang kuharap keikhlasanmu....
Aku memang tidak seperti yang engkau bayangkan keberadaannya,
Hanya ingin kutulis saja, bahwa aku sangat mencintaimu,
Dalam bait-bait doaku, tak pernah lalai kumohonkan pada Alloh swt,
Agar curahan rahmatNYA menghadirkan cinta dihatimu, untukku...

Bunda...
Semoga ketika engkau membaca surat cinta dan curahan hati ini, maka hadirkanlah maaf untukku yang tak berarti ini....

“Rabb, sampaikan beribu-ribu salam dan permohonan maaf kepada Ibunda dari seorang partner dakwah hamba. Curahkan kasih sayangMU dan lembutkan hatinya untukku.....”(biruhati syaheed)

berikut ini puisi yang ditulis oleh seorang suami untuk istrinya. selamat menikmati ;)

Dindaku sayang,


Bersamaku kuajak engkau meniti jalan Cinta ini,
jalan yang sangat tipis dan sehalus sutra,
penuh liku duka dan bahagia.

Bersama kita bergandengan tangan, Sayang,
bergenggaman erat satukan jari-jemari kita,
hingga denyut Cinta terasa mengalir indah ke setiap sumsum jiwa.
Kepakkan sayap-sayap Rindu kita berdua, Sayang,
arungi segala pusaran waktu menuju Sang Rindu.

Karena kau tahu, Sayangku,
jalan yang sedang kita tapaki bersama ini betapa penuh dengan duri.
Duri-duri yang sangat tajam,
yang senantiasa menanti tapak-tapak kaki kita untuk dilukai, dibuat nyeri, dibuat perih dan pedih.
Duri-duri yang selalu mengintai tangan dan tubuh kita untuk disakiti.
Duri-duri yang menanti telaga bening di kedua bola mata kita ini luruh satu demi satu basahi pipi.

Duri-duri yang sesungguhnya merupakan sahabat kita, Sayang,
di saat kaki-kaki kita tertatih-tatih penat di jalan Allah ini.
Tatih penat demi meruntuhkan ego kita
dalam mengarungi biduk Cinta kita berdua.
Tatih penat demi membangun istana Cinta di Langit Cahaya.

Sungguh, semua ini semata karena Cinta Dia -Sang Cinta-...(biruhati syaheed)

Nah, berikut ini artikel yang sangat baik bagi pasutri mau pun para lajang untuk menjadikan pernikahan langgeng. SAMARA. Baca bersama pasangan tentu menjadikan pembelajaran kita semakin seru. Bukankah berumahtangga adalah proses yang takpernah berhenti?


Hak dan Kewajiban Suami Isteri dalam Islam

Sebagai bahan referensi dan renungan bahkan tindakan, berikut, garis besar hak dan kewajiban suami isteri dalam Islam yang di nukil dari buku “Petunjuk Sunnah dan Adab Sehari-hari Lengkap” karangan H.A. Abdurrahman Ahmad.


Hak Bersama Suami Istri

- Suami istri, hendaknya saling menumbuhkan suasana mawaddah dan rahmah. (Ar-Rum: 21)

- Hendaknya saling mempercayai dan memahami sifat masing-masing pasangannya. (An-Nisa’: 19 - Al-Hujuraat: 10)


- Hendaknya menghiasi dengan pergaulan yang harmonis. (An-Nisa’: 19)

- Hendaknya saling menasehati dalam kebaikan. (Muttafaqun Alaih)


Adab Suami Kepada Istri .

- Suami hendaknya menyadari bahwa istri adalah suatu ujian dalam menjalankan agama. (At-aubah: 24)

- Seorang istri bisa menjadi musuh bagi suami dalam mentaati Allah clan Rasul-Nya. (At-Taghabun: 14)


- Hendaknya senantiasa berdo’a kepada Allah meminta istri yang sholehah. (AI-Furqan: 74)


- Diantara kewajiban suami terhadap istri, ialah: Membayar mahar, Memberi nafkah (makan, pakaian, tempat tinggal), Menggaulinya dengan baik, Berlaku adil jika beristri lebih dari satu. (AI-Ghazali)


- Jika istri berbuat ‘Nusyuz’, maka dianjurkan melakukan tindakan berikut ini secara berurutan: (a) Memberi nasehat, (b) Pisah kamar, (c) Memukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan. (An-Nisa’: 34) … ‘Nusyuz’ adalah: Kedurhakaan istri kepada suami dalam hal ketaatan kepada Allah.


- Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah, yang paling baik akhlaknya dan paling ramah terhadap istrinya/keluarganya. (Tirmudzi)


- Suami tidak boleh kikir dalam menafkahkan hartanya untuk istri dan anaknya.(Ath-Thalaq: 7)


- Suami dilarang berlaku kasar terhadap istrinya. (Tirmidzi)


- Hendaklah jangan selalu mentaati istri dalam kehidupan rumah tangga. Sebaiknya terkadang menyelisihi mereka. Dalam menyelisihi mereka, ada keberkahan. (Baihaqi, Umar bin Khattab ra., Hasan Bashri)



- Suami hendaknya bersabar dalam menghadapi sikap buruk istrinya. (Abu Ya’la)

- Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh kasih sayang, tanpa kasar dan zhalim. (An-Nisa’: 19)



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...