Tampilkan postingan dengan label peran istri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peran istri. Tampilkan semua postingan

Note : Bunda, berpikirlah seribu kali untuk tidak memberikan ASI pada bayi kita. Anak yang mendapat ASI cuma dua bulan lebih berpotensi berperangai buruk.
Ada Adi, 4,5 tahun, berarti ada keributan. Boleh jadi itu ungkapan yang tepat untuk bocah Taman Kanak-kanak itu. Pertengkaran tak cuma terjadi dengan temannya di sekitar rumah, di sekolah pun begitu. Ibunya mengeluh, tapi anak lelaki itu tak surut juga bertingkah-polah secara berlebihan. Cepat beradu mulut plus ringan tangan dan kaki.
Ada kemungkinan pemicunya memang beragam. Namun, bila menilik sebuah penelitian terbaru tentang kaitan asupan air susu ibu (ASI) dengan perilaku dan mental anak, ada baiknya si ibu bertanya kepada diri sendiri, “Apakah si anak mendapat ASI dalam masa yang cukup?”
Penelitian yang dilakukan Dr Katherine Hobbs Knutson, dari Departemen Psikiatri, Rumah Sakit Umum Massachusetts, Boston, Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa ASI secara signifikan mempengaruhi perangai sang anak di masa depan. Studi baru seperti dikutip dari HealthDay News ini menyebutkan, seorang ibu yang mencukupi asupan ASI bayinya tidak pernah melaporkan adanya masalah perilaku dan mental pada anaknya selama lima tahun fase pertumbuhannya.
Namun, ditemukan anak yang cuma disusui selama dua bulan berpotensi berperangai buruk dibanding anak yang ditunjang ASI selama satu tahun.
“Ini merupakan indikasi jika memberi ASI selama pertumbuhan dapat memiliki efek pada anak,” kata Hobbs. Studi melibatkan sekitar 100 ribu partisipan dari usia 10 bulan hingga 18 tahun. Dalam penelitian, orang tua ditanya seputar pemberian ASI dan perilaku dan mental anaknya.
perilaku mental anak dipengaruhi oleh pemberian ASI
Menurut spesialis anak, dr Soedjatmiko, selama proses menyusui akan terjadi interaksi penuh kasih sayang antara ibu dan buah hatinya. “Bayi merasa aman, nyaman, dan dilindungi sehingga terbentuk attachment basic trust sebagai landasan utama perkembangan emosi yang baik di kemudian hari,” ujarnya.
Konsultan laktasi, dr Utami Roesli, SpA, mengungkapkan, bayi yang terpenuhi asupan ASI akan memiliki emotional quetient (EQ) dan spiritual quetient (SQ) yang baik. “Ini yang akan membentuk behave-nya,” ucapnya. Dibanding susu formula, menurut dia, kontak langsung dari kulit ke kulit membuat buah hati lebih merasa dekat. “Ketika menyusui juga ada rangsangan terhadap panca inderanya.
Bayi akan merasakan, melihat, mencium, dan mendengar sesuatu yang ada di dekatnya, termasuk keintiman dengan ibunya.” Anak yang diberi ASI akan tumbuh lebih cerdas dan sehat dibanding bayi dengan susu formula,” kata Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia itu.
Keampuhan ASI pun sudah terbukti. Utami memberi contoh Skandinavia dan Swedia, dua negara yang sangat mendukung asupan maksimal ASI kepada bayi dengan membuat kebijakan cuti bagi orang tua. “Bukan cuti hamil untuk ibunya saja,” ujarnya. Di kedua negeri itu, cuti dapat diambil satu tahun penuh. Empat bulan pertama pasangan suami-istri tetap mendapat 100 persen gaji.
Mulai bulan kelima, gaji dibayar 80-90 persen. “Kebijakan ini yang membuat anak-anak di Swedia dan Skandinavia cerdas dan sehat. Di sana juga sangat sulit ditemukan susu formula,” ia menambahkan. Lagi pula, ia menegaskan, menyusui itu merupakan proses bertiga, yakni istri, suami, dan anak.
Adapun pemenuhan ASI sudah harus dilakukan sejak bayi lahir sampai usia 6 bulan tanpa dicampur makanan atau cairan lain meski air putih sekalipun. “ASI diperlukan hingga usia bayi 2 tahun, tapi dengan makanan pendamping,” kata Utami. Dari data yang dimilikinya, tercatat anak yang disusui ASI, IQ-nya lebih tinggi 12,9 poin pada usia 9 tahun.
Berdasarkan penelitian American Academy of Pediatrics, asupan ASI pada bayi juga membuat anak terhindar dari penyakit infeksi, seperti diare, radang paru-paru, dan radang otak. Studi juga mengindikasikan mereka lebih rendah risiko terkena obesitas, diabetes, dan kanker.
Hal ini disebabkan oleh kandungan enzim dalam ASI mendukung sistem pencernaan dan meningkatkan kekebalan tubuh. Terutama dari kandungan yang terdapat pada susu jolong atau kolostrum–cairan kuning kental pada awal menyusui sampai hari keempat dan ketujuh.
Tidak hanya untuk anak, menyusui juga sangat fungsional untuk kaum ibu. Menurut Utami, bagi ibu menyusui akan mencegah risiko anemia. Menyusui secara eksklusif selama enam bulan berdampak pada penundaan haid.
Dengan demikian, ibu dapat menyimpan zat besi dan mencegah terjadi defisiensi zat besi yang memicu anemia. Lalu, isapan bayi pada payudara ibu juga akan mencegah perdarahan setelah melahirkan dan mempercepat involusi uterus (pengecilan rahim kembali).
Selain itu, dapat mengurangi risiko terjangkit kanker payudara dan ovarium. “Banyak penelitian yang membuktikan adanya hubungan antara infertilitas dan tidak menyusui dengan peningkatan risiko terkena kanker,” ucap Utami. Walhasil, dia menyimpulkan bayi akan sehat secara fisik, intelektual sekaligus emosional, jika hak ASI anak dapat dipenuhi oleh sang ibu. HERU TRIYONO
AGAR OPTIMAL
Minta Inisiasi Menyusui Dini (IMD).
Bayi jangan dipisahkan dari ibunya setelah melahirkan.
Selama 48 jam pertama tidak diberi susu formula.
Permintaan dan suplai ASI secara rutin (dikeluarkan 10 cc, maka diproduksi 10 cc).
Ada dukungan emosi dari suami dan keluarga. ASI eksklusif saat bayi berusia 0-6 bulan.
Konsultasi ke dokter (bila perlu).
Sumber: Koran Tempo – 05 November 2008
Muslim mother adjusts her daughter's hijab

Muslimah, merayakan hari ibu adalah budaya barat. Kita tak hendak menjadikan 1 hari spesial untuk ibu. Bukankah setiap hari kita musti berbakti padanya? Tiap hari adalah hari ibu. Jadi, mari kita istimewakan ibu seiap waktu....


By `Abdul-Fattah `Ashoor, Yusuf Al-Qaradawi, Faysal MawlawiIslamOnline.net, March 20, 2007
In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.
All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger.
It goes without saying that every committed Muslim is supposed to pay his parents, especially his mother, due respect. One should try to show dutifulness to one’s parents, no matter whether they are Muslim or not.
On the other hand, what Islam goes against is the idea of marking a special occasion such as celebrating the Mother’s Day in a way that implies that mothers do not deserve due respect and care except on this one day. If we are going to make the whole year a Mother’s Day, then Islam welcomes celebrating the occasion with open arms!
Indeed, Muslim scholars have maintained various opinions regarding the issue. Here below we will attempt to furnish you with Juristic views as regard this issue:
First of all, Sheikh Faysal Mawlawi, deputy chairman of the European Council for Fatwa and Research, states:
Dutifulness to parents, especially the mother, and treating them kindly is an act of worship enjoined in both the Qur’an and the Sunnah of the Prophet (peace and blessings be upon him). Being dutiful to parents is not confined to a specific time. It is an obligation that should be observed every time, as all people commonly know.
Yet, the Mother’s Day, as it’s known nowadays is a Western habit. The Westerners specified a day and called it the Mother’s Day. On that day sons and daughters show gratefulness to their mothers and offer them presents. It has become part of important feasts in the West, whereas we Muslims have no other festivals except the Lesser and the Greater Bairams. Any other celebrations are deemed mere occasions or anniversaries; and this is applied to the Mother’s Day.
The Mother’s Day implies paying more attention and exerting more effort in expressing gratitude to mothers. So there is nothing wrong in that.
However, there are two reservations worth mentioning; first, considering the Mother’s Day a feast; second, confining the task of showing dutifulness to mothers to that specific day, giving implication that throughout the whole year, just only one day is for showing love to parents. If such two anomalous points are addressed, then there is nothing wrong in considering the Mother’s Day a chance to give more care to mothers.
Muslim mother with her two children in AustraliaThus, we may take the Mother’s Day as a chance to lay more emphasis on our duty towards our mothers, as Islam enjoins us, because dutifulness to parents is a genuine Islamic teaching. But Muslims, in doing that, should never deviate from the Islamic teachings, they should do things in Islamic manners, not in Western manners. Hence, they would not be imitating the non-Islamic habits of the West.
Hence, viewed in juristic perspective, we can say that celebrating the Mother’s day is controversial among the contemporary scholars. While a group of them consider it haram (unlawful) as a kind of blind imitation of the Western non-Islamic habits, which have no benefit for Muslims, another group see it halal (lawful) on condition that showing gratitude and dutifulness to parents should not be confined to that day only.
Moreover, the well known erudite scholar Sheikh Yusuf al-Qaradawi states:
The Arab tend to blindly follow the Western in their celebration of the Mother’s Day, without trying to understand the wisdom behind inventing such an occasion.
When the Europeans found that children do not deal properly towards their parents nor give them their due right, they resorted to specifying an annual occasion for children to remedy the situation. But in Islam, mothers are to be given due respect and love every time, not only one day a year. For example, when one goes out, he kisses one’s mother’s hand seeking her pleasure and blessing.
A Muslim must not allow any gap between him and his mother, he must offer her presents every time. This indicates that Muslims can dispense with such an occasion, the Mother’s Day. Unlike the case in the West, where it’s a vogue for some children to show indifference to their mothers’ feelings, and, what’s more, it is so common to see some parents being dragged to infirmaries (as their kids have no time for them), dutifulness to parents in Islam, alongside with worshipping Allah, is a sacred duty.
In this concern, Almighty Allah says: (And We have commended unto man kindness toward parents. His mother beareth him with reluctance, and bringeth him forth with reluctance, and the bearing of him and the weaning of him is thirty months, till, when he attaineth full strength and reacheth forty years, he saith: My Lord! Arouse me that I may give thanks for the favor wherewith Thou hast favored me and my parents, and that I may do right acceptable unto Thee. And be gracious unto me In the matter of my seed. Lo! I have turned unto Thee repentant, and lo! I am of those who surrender (unto Thee).) (Al-Ahqaf 46: 15)
Reflecting on the aforementioned Qur’anic verse, we find it stressing both parents’ right, but reviewing the following verses we find them paying special care to the mother and tackling the hardships she suffers in pregnancy, fosterage and rearing children.
In this verse, Almighty Allah informs man of the debt he owes his mother since he was a fetus, passing by the process of childbirth, infancy, childhood until he comes of age. A child normally forgets the hardship which his mother underwent during pregnancy. Hence Almighty Allah draws his attention to such hardships, laying emphasis on her great status in Islam.
Muslim mother reads Quran with her daughters
Finally, Dr. `Abdul Fattah `Ashoor, professor of Qur’an Exegisis at Al-Azhar University, concludes:
Holding celebrations in honoring others and commemorating anniversaries are neither feasts nor Islamic. But one may seize any chance to express gratitude to those who deserve it. This is how we should consider the Mother’s Day. The mother has a special place in the Islamic culture, and all other civilized cultures. So it is something good to do anything to please her and show gratefulness to her.
So dedicating a day to showing good feelings towards parents, especially the mother, is by no means blameworthy as it does not contradict the Islamic teachings, nor can it be merely considered a form of joining the Western vogue of making celebrations. Conversely, it is a kind of devotion to Allah’s orders that we should be dutiful to our parents. http://www.zawaj.com/category/islamic-knowledge-new/women-in-islam/

Ada pepatah di dunia Barat: Behind every great man there’s even a greater woman. Di belakang setiap Pria Hebat, ada seorang wanita yang lebih hebat lagi yang mendorongnya dari belakang. Sepanjang sejarah Islam bertaburan tokoh wanita mulia yang telah mengukir sejarah dengan amal mereka. Sebutlah sosok ibu susu Nabi SAW, Halimah Sa’diyah, sejumlah istri Nabi SAW, sahabiyat Khansa dan lain-lain, adalah tokoh-tokoh unik yang jarang diangkat kecuali beberapa saja. Mujahidah pun ada. Bagaimana dengan masa kini?

Era kita sekarang adalah era peradaban Barat dengan segala budaya dan faham sekuler materialismenya. Dalam era ini, nilai-nilai keluarga telah berubah, apa yang dianggap berharga di masa lalu kini tak lagi dianggap penting. Cara pandang atas suatu masalah-pun sudah berubah. Bagi sebagian komunitas pendidikan merupakan barang mahal. Di sini ini acara bagi-bagi sembako merupakan acara rebutan. Beberapa partai politik-pun mengedepankan program “sembako murah” sebagai tema kampanye mereka.

Kaum ibu pasti yang nomer satu setuju dengan tema kampanye seperti ini sebab merekalah yang paling sering berurusan dengan kesulitan belanja dapur. Makan-makan-makan. Itu seolah lebih penting daripada mengusahakan pendidikan bagi anak-anak. Ironis.

fitrahnya perempuan adalah merawat anak hingga mampu
melayani diri sendiri dan menjalankan perintah penghambaan
Apakah keterlibatan wanita di masyarakat lebih penting daripada baktinya di rumahtangga? Pernahkah ada yang meneliti seberapa besarnya kerugian bangsa ini sejak wanita Indonesia semakin banyak yang bekerja di luar rumah seperti sekarang? Tanyakanlah ke pada para ahli pendidikan anak, misalnya Psikolog Anak, atau ahli Paedagogi dan Pendidikan Anak Usia Dini. Bahkan tanyakan pada Guru TK. Semua sepakat bahwa ada “golden years” (tahun emas) dalam pendidikan anak yang tak akan kembali, yaitu lima tahun pertama!

Bagaimana jika wanita yang cerdas dan berpendidikan digesa untuk mengejar amal sosial sementara anak-anaknya di rumah harus diserahkannya kepada wanita-wanita lain yang pendidikannya lebih rendah dari dirinya (yaitu pengasuh) yang juga meninggalkan anak-anak mereka di kampung untuk dididik oleh entah siapa? Siklus kekosongan pendidik utama dari kampung hingga ke kota. Tambah ironis lagi, baik di desa maupun di kota ada saja kasus balita rawan pangan dan menderita gizi buruk.

Saat ini, di desa anak peremuan masih di diskriminasi dibanding saudara laki-laki mereka dalam akses pendidikan, bahkan di desa, pendidikan masih minim dan memprihatinkan. Sementara di kota, anak peremuan dianjurkan untuk bersaing dengan saudara laki-laki mereka tanpa pendidikan tentang gender secara benar! Aneh jika kita bicara gender (jinsiyah/ berhubungan dengan jenis kelamin seseorang), maka seolah itu berarti kita harus menganjurkan wanita SETARA secara all out dengan laki-laki. Padahal dalam konsepsi Islam tentang wanita khususnya ibu, seorang ibu lebih dahulu dihargai TIGA kali dari pada bapak. Betapapun bapak yang memberi makan dan membiayai pendidikan formalnya.

Kapankah para pemimpin bangsa ini sadar tentang mana yang prioritas? Masalah pendidikan bukan semata masalah ketersediaan anggaran pendidikan sampai 20% atau harus lebih. Bukan pula semata masalah ketersediaan jumlah guru yang memadai. Untuk apa jumlah guru cukup namun wawasan pendidikan mereka masih akan mengulangi format pendidikan yang sudah usang dan tak menjawab tantangan zaman. Bukan juga semata soal kelangkaan fasilitas pendidikan formal sejak gedung sekolah yang rusak hingga buku paket yang mahal. Bukan SEMATA soal materi.
Masalah-masalah itu memang berpengaruh untuk kelancaran proses belajar mengajar, namun untuk bangsa ini, masalahnya lebih dalam dari itu.

berkiprah di luar rumah memiliki risiko besar jika ditinjau
dari segi pembentukan karakter generasi mendatang


Wanita harus berkarya, namun jika Allah SWT Memberikan padanya amanah anak, maka sudah jelas amal pertama dan utama baginya di lima tahun awal kehidupan anak-anaknya adalah bersama mereka. Boleh punya asisten dalam rumahtangga, namun sebagai pendidik utama sang ibulah yang harus hadir pada saat –saat emas dalam kehidupan anak dan mengukir kepribadian mereka. Itulah yang seharusnya prioritas bagi wanita Indonesia.

Bagi wanita desa, sebaiknya justru diberi pendidikan dan ketrampilan praktis mendidik anak, bukan untuk bekerja sebagai pengasuh di kota, namun sebagai pendidik anak mereka sendiri lebih dahulu. Bagi wanita Indonesia, apalagi muslimah, hendaknya memprioritaskan pendidikannya bagi anak-anaknya sendiri lebih dahulu sebelum berpikir melakukan amal-amal di luar rumah, betapapun hebatnya ia ditunggu di luar sana. Setidaknya lima tahun pertama!

Kapankah para pemimpin negeri ini sadar bahwa membangun Indonesia harus diawali dengan mendidik kaum ibu sebaik-baiknya, agar mereka dapat berada di tempat yang tepat dengan skill dan wawasan yang benar? Wallahua’lam 
sumber: http://eramuslim.ubik.net/syariah/benteng-terakhir/cetak/untuk-kaum-ibu

Mendengar kabar seorang ibu melahirkan dengan selamat membuat kebahagiaan memancar di hati setiap orang. Ada kalanya kebahagiaan itu mendorong kita untuk mengirimkan kado untuk si kecil. 
Ukhti shalihat, ternyata...si bayi belum memahami pentingnya berkado. Mahal atau lucunya barang yang dikirimkan. Baginya, kebahagiaan sejati hanya ada di pelukan ibu saat ia mendengar degup jantung beliau dan merasakan ASI juga belaian kasih sayangnya.
Alangkah bijaknya, jika kita mulai memperhatikan dan memberi kado untuk sang ibu. Harapannya, agar ibu merasakan gembira. Merasa terperhatikan dan termotivasi untuk pulih dari keletihan melahirkan. Ingat, Ukhti. lebih dari setengah ibu melahirkan di dunia ini mengalami sindrom bayi biru yang jika tak tertangani dengan baik maka menyebabkan depresi permanen.
cantiknya bayi baru lahir seakan mengalihkan
 perhatian  dunia dari sang ibu  pasca melahirkan
Bangun komunikasi dengan keluarga sang ibu (terutama ayah si bayi) dan peringatkan mengenai hal ini. Insyaallah perawatan bayi pun niscaya menjadi optimal. Sang ibu menikmati perannya dan bayi pun mendapatkan haknya :) 
Sindrom baby blues atau postpartum syndrome adalah sindrom pasca melahirkan, dan hampir 50% ibu pasca melahirkan mengalaminya.
Penyebab sindrom  baby blues:
  • Hormonal. Usai melahirkan kadar hormon kortisol meningkat mendekati kadar orang depresi. Pada saat yang bersamaan hormon laktogen dan prolaktin yang memicu produksi ASI meningkat, sementara kadar hormon progesteron sangat rendah. Hormon-hormon tersebut menimbulkan keletihan fisik dan memicu depresi
  • Sosial. Ibu mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan peran barunya, sang ibu merasa dijauhi oleh lingkungan dan terikat dengan si kecil yang baru lahir.
  • Fisik. Kelelahan fisik yang dialami ibu akibat aktivitas merawat si kecil sepanjang hari juga memicu sindrom ini
  • Psikologis. Ibu merasa kurang diperhatikan karena perhatian keluarga terutama suami tertuju pada bayi yang baru lahir, padahal ibu yang baru melahirkan kelelahan dan butuh perhatian. Selain itu perasaan kecewa pada perubahan bentuk tubuh juga bisa memicu depresi.

Gejala Sindrom Baby Blues

Gejala sindrom ini bermacam-macam mulai dari kehilangan nafsu makan, merasa bersalah dan tidak berharga, merasa sendiri, sesak nafas, sulit tidur, gelisah, berkeringat dingin, menangis tanpa sebab, tegang, bingung, sedih, murung, sakit, marah, dan berpikiran negatif pada suami
Dampaknya pada bayi
Bayi yang terus menerus mengalami perlakuan dari ibu yang tidak tulus akibat stress akan menjadi mudah menangis, rewel, gampang cemas, pemurung dan mudah sakit hati.
Perawatan pasca melahirkan|Cara mengatasi Sindrom Baby Blues
Mintalah bantuan untuk mengurus si kecil sehingga ibu bisa beristirahat. Banyak beristirahat pada bulan-bulan pertama setelah persalinan akan mencegah stress dan memulihkan tenaga. Selain itu, hindari makanan dan minuman yang manis dan mengandung kafein karena akan memperburuk depresi. Konsumsilah makanan yang sehat agar tubuh segera pulih. Dukungan dari suami atau orang terdekat bisa mengurangi stress, berceritalah pada mereka.

Tips M-Care: sebaiknya, ayah baru berusaha secara optimal untuk mengurangi kelelahan fisik dan batin ibu baru. mengajaknya berkomunikasi dan membangun harapan bersama agar mental ibu menguat, bounding dengan anak pun semakin dalam.

Nah, berikut ini artikel yang sangat baik bagi pasutri mau pun para lajang untuk menjadikan pernikahan langgeng. SAMARA. Baca bersama pasangan tentu menjadikan pembelajaran kita semakin seru. Bukankah berumahtangga adalah proses yang takpernah berhenti?


Hak dan Kewajiban Suami Isteri dalam Islam

Sebagai bahan referensi dan renungan bahkan tindakan, berikut, garis besar hak dan kewajiban suami isteri dalam Islam yang di nukil dari buku “Petunjuk Sunnah dan Adab Sehari-hari Lengkap” karangan H.A. Abdurrahman Ahmad.


Hak Bersama Suami Istri

- Suami istri, hendaknya saling menumbuhkan suasana mawaddah dan rahmah. (Ar-Rum: 21)

- Hendaknya saling mempercayai dan memahami sifat masing-masing pasangannya. (An-Nisa’: 19 - Al-Hujuraat: 10)


- Hendaknya menghiasi dengan pergaulan yang harmonis. (An-Nisa’: 19)

- Hendaknya saling menasehati dalam kebaikan. (Muttafaqun Alaih)


Adab Suami Kepada Istri .

- Suami hendaknya menyadari bahwa istri adalah suatu ujian dalam menjalankan agama. (At-aubah: 24)

- Seorang istri bisa menjadi musuh bagi suami dalam mentaati Allah clan Rasul-Nya. (At-Taghabun: 14)


- Hendaknya senantiasa berdo’a kepada Allah meminta istri yang sholehah. (AI-Furqan: 74)


- Diantara kewajiban suami terhadap istri, ialah: Membayar mahar, Memberi nafkah (makan, pakaian, tempat tinggal), Menggaulinya dengan baik, Berlaku adil jika beristri lebih dari satu. (AI-Ghazali)


- Jika istri berbuat ‘Nusyuz’, maka dianjurkan melakukan tindakan berikut ini secara berurutan: (a) Memberi nasehat, (b) Pisah kamar, (c) Memukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan. (An-Nisa’: 34) … ‘Nusyuz’ adalah: Kedurhakaan istri kepada suami dalam hal ketaatan kepada Allah.


- Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah, yang paling baik akhlaknya dan paling ramah terhadap istrinya/keluarganya. (Tirmudzi)


- Suami tidak boleh kikir dalam menafkahkan hartanya untuk istri dan anaknya.(Ath-Thalaq: 7)


- Suami dilarang berlaku kasar terhadap istrinya. (Tirmidzi)


- Hendaklah jangan selalu mentaati istri dalam kehidupan rumah tangga. Sebaiknya terkadang menyelisihi mereka. Dalam menyelisihi mereka, ada keberkahan. (Baihaqi, Umar bin Khattab ra., Hasan Bashri)



- Suami hendaknya bersabar dalam menghadapi sikap buruk istrinya. (Abu Ya’la)

- Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh kasih sayang, tanpa kasar dan zhalim. (An-Nisa’: 19)



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...