Tampilkan postingan dengan label imunitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label imunitas. Tampilkan semua postingan
Artikel di bawah ini ditulis oleh sorang dokter. Bacalah dengan seksama, saudariku. Insyaallah kita akan makin cerdas dalam memahami "bahasa tubuh". Ketika tubuh menjerit "letih" maka berikan haknya untuk "istirahat sejenak".
sumber: http://www.prevention.co.id/article.php?name=/tubuh-bukan-mesin-yang-hidup&channel=dr_tan&print=1

Tubuh ini punya kita. Cintailah dan jangan “memasrahkannya” ke dokter, yang paling ahli sekalipun.


Lima tahun belakangan ini, ada sebuah ‘ritual’ di kamar praktek saya, yang bisa jadi belum pernah dilakukan dokter lain. Saya lebih suka menyebutnya sebagai ‘servis utama’ sebelum saya lakukan tindakan apa pun terhadap pasien.

Semua pasien baru saya kumpulkan pada jam tertentu dan mulailah ‘servis utama’ yang saya maksud: ceramah kecil satu jam tentang arti tubuh manusia, mengapa jadi sakit, apa yang biasa dilakukan orang menghadapi tubuh yang sedang bertingkah itu, apa yang justru tidak biasa dilakukan dan…kaitannya dengan sikap-sikap prilaku manusia secara emosional maupun spiritual.

Kelihatan ‘garing’? Aha. Nanti dulu. Apa yang Anda lakukan ketika tekanan darah naik? Kolesterol ‘nanjak’? Gula darah melonjak? Kekentalan darah bertambah? Nyeri kepala tak kunjung reda? Asam urat bertambah parah? Anda pasti langsung mencari dokter dan obat manjur.

Cara berpikir yang sama ketika anak menunjukkan gejala hampir tidak naik kelas. Cari guru les. Cari bala bantuan. Prinsipnya adalah menjawab pertanyaan “bagaimana caranya untuk….” Cara berpikir demikian timbul persis ketika prinsip-prinsip mekanika diterapkan dalam hampir semua aspek kehidupan manusia. Termasuk tubuh. Namun salah kaprah terjadi ketika penanganan terbatas hanya pada aspek mekanika tersebut.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...