Tampilkan postingan dengan label Poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poem. Tampilkan semua postingan
Atau tentang rasa malu yang redup tenggelam di tanah air kita

Reformasi sebagai gelombang raksasa
Membawa perubahan politik dahsyat satu dasawarsa
Dan menumpang masuklah penghancur nilai-nilai luhur bangsa,
Penumpang destruktif pelaksana
Dengan ciri kerja gabungan utama:
Permisif: serba boleh
Adiktif: serba kecanduan
Brutalistik: serba kekerasan
Transgresif: serba melanggar aturan
Hedonistik: serba mau enak, foya-foya
Materialistik: serba benda, diukur

Dan mereka bekerja dengan leluasa,
karena tidak ada rasa malu lagi dalam panca indera

Dengan mengusung nilai permisif, serba boleh begitu-begini
Hak orang lain diambil, tanpa rasa malu lagi
Populernya ini disebut korupsi
Dan menjadilah negeri ini menduduki papan atas di dunia koruptif kini
Karena rasa malu terkikis nyaris habis

Nilai permisif yang serba boleh itu
menyebabkan hak penggunaan kelamin orang lain
Diambil dicuri tanpa rasa risih
Karena rasa malu sudah sangat erosi

...Nilai permisif yang serba boleh itu menyebabkan hak penggunaan kelamin orang lain diambil dan dicuri tanpa rasa risih...


Two little girls playing in the sun
one wore a scarf, the other wore none.

"Why do you wear a scarf?" asked the one without,
the other little girl said without a doubt

menentukan pilihan ketika kecil,
menyelamatkan ketika dewasa :)
"Allah loves me to cover my hair
so that little boys won't stand and stare,

when I grow up what I really want to be
is a well dressed Muslim lady like my pretty Mummy."

terkadang merebut hati mertua menjadi perjuangan teramat sukar untuk dilalui. bismillah...jika kita meminta pada Allah dan mencoba berkomunikasi dari hati ke hati insyaallah SAMARA menjadi nyata.


Ku tulis ini untuk Ibunda dari seorang partner dakwahku..

Bunda* maafkan aku.................
(Mungkin memang tak layak bagiku merebutnya dari sisimu.....)

Bunda tersayang...
Bunda yang melahirkan mujahidah yang begitu cerdas dan sholehah....
Jika “milikmu” seolah terenggut dari “pelukanmu”....
Percayalah Bunda, bahwa itu semua adalah karena dalam rangka ibadah padaNya

Bunda yang sangat kuhormati....
“Mutiaramu” itu memang sangat berharga, bahkan tidak hanya bagimu, tapi juga bagi dakwah ini...

Bunda yang kucintai....
Dakwah ini butuh “jundimu”, jundi yang kuat fikr, kuat jiwa, dan segalanya...
Mutiaramu mempunyai sebagian dari yang dakwah butuhkan...
Tidak karena apa-apa Bunda...
Tapi Bunda, akan sayang sekali jika potensi itu mati tidak menjadi tidak berarti...

Tapi Bunda,...
Jika karena amanah itu harus segera tunai...
Maka tentulah ikhlas hati untuk melepasnya
Namun izinkan “dia” kembali menjadi “mutiara” bagi kami, setelah amanah itu terpenuhi....

Bunda yang kuharap dukunganmu...
Mohon maaf jika cara-cara kami tidak berkenan di hatimu
Engkau lebih berpengalaman dariku, karenanya...
Bimbinglah kami menjadi lebih benar dan ahsan dalam berjalan......

Bunda...
Kutulis ini, karena aku sangat sedih jika Bunda tak meredhoinya, tak meredhoi “mutiaramu” atas segala aktivitasnya.

Bunda,....
Sungguh, semua ini kutulis karena kita semua berharap syurgaNya

Bunda..., yang ingin sekali kubisa dekat denganmu...
Akoe takkan segan-segan berbakti padamu layaknya orangtuaku,
Karena bagiku, siapapun “Bunda” bagi mujahid/dah dakwah ini dan begitu mendukung dengan sepenuh hati, maka engkau adalah Bundaku juga...

Bunda.....
Senyum tulusmu,
Sapa riangmu,
Adalah impian yang selalu kuinginkan terwujudkan untukku...

Bunda yang kuharap keikhlasanmu....
Aku memang tidak seperti yang engkau bayangkan keberadaannya,
Hanya ingin kutulis saja, bahwa aku sangat mencintaimu,
Dalam bait-bait doaku, tak pernah lalai kumohonkan pada Alloh swt,
Agar curahan rahmatNYA menghadirkan cinta dihatimu, untukku...

Bunda...
Semoga ketika engkau membaca surat cinta dan curahan hati ini, maka hadirkanlah maaf untukku yang tak berarti ini....

“Rabb, sampaikan beribu-ribu salam dan permohonan maaf kepada Ibunda dari seorang partner dakwah hamba. Curahkan kasih sayangMU dan lembutkan hatinya untukku.....”(biruhati syaheed)

berikut ini puisi yang ditulis oleh seorang suami untuk istrinya. selamat menikmati ;)

Dindaku sayang,


Bersamaku kuajak engkau meniti jalan Cinta ini,
jalan yang sangat tipis dan sehalus sutra,
penuh liku duka dan bahagia.

Bersama kita bergandengan tangan, Sayang,
bergenggaman erat satukan jari-jemari kita,
hingga denyut Cinta terasa mengalir indah ke setiap sumsum jiwa.
Kepakkan sayap-sayap Rindu kita berdua, Sayang,
arungi segala pusaran waktu menuju Sang Rindu.

Karena kau tahu, Sayangku,
jalan yang sedang kita tapaki bersama ini betapa penuh dengan duri.
Duri-duri yang sangat tajam,
yang senantiasa menanti tapak-tapak kaki kita untuk dilukai, dibuat nyeri, dibuat perih dan pedih.
Duri-duri yang selalu mengintai tangan dan tubuh kita untuk disakiti.
Duri-duri yang menanti telaga bening di kedua bola mata kita ini luruh satu demi satu basahi pipi.

Duri-duri yang sesungguhnya merupakan sahabat kita, Sayang,
di saat kaki-kaki kita tertatih-tatih penat di jalan Allah ini.
Tatih penat demi meruntuhkan ego kita
dalam mengarungi biduk Cinta kita berdua.
Tatih penat demi membangun istana Cinta di Langit Cahaya.

Sungguh, semua ini semata karena Cinta Dia -Sang Cinta-...(biruhati syaheed)


kubelajar mencinta lewat cintamu
"Pada suatu masa" adalah "ketika"
yang tak akan kuasa berulang.


Namun,
pada suatu masa ketika kau melahirkanku...
-
 adalah awal keabadian
-
kumemanggilmu :

"ibu, "
(vb@15/12/2010)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...